Jadi menurut saran suster novi sebagai konsultan laktasi, saya dianjurkan untuk memompa payudara supaya mengurangi kencengnya.
Nah berhubung dari dulu mupeng beli pompa elektrik dual pump, inilah kesempatan sayaaa. Hyahahahahhaha........ Meskipun sebenarnya saya juga gak kepingin kena semi mastitis ini. Sakiiiit....
Akhirnya si mas bojo terpaksa deh beliin, hehehhe... Soalnya kalau pakai yang di rumah, manual single pump, ya kithing tanganku.
Pilihan sayahhhh jayuh ke malish aria yg warnanya pink ituuu.... Meski anakku laki-laki, dan saya juga bukan pecinta pink, tapi seneng aja gitu pompanya lucu.
Dari berbagai review yang guwehhh baca di internet, pompa ini nyaman sekali dipakai untuk mobilitas tinggi, karena bentukny kecil sekali kayak hape. Lalu suaranya lembut, gak berisik, mirip sama getar hape.
Meski guwehhh adalah fulltime new mom dan pengangguran tingkat tinggi, tapi tetep pengenlah yang bisa dibawa kemana-mana. Praktis dan gak ribet jaya. Tapi alasan utama ya karena warnanya pink seh. Huhuhu...
Sebenarnya sudah browsing dari dulu, untuk nyari toko penyedia malish aria ini di surabaya. Biasalah impian kosong, tapi terwujud juga ternyata.... heheheh.... meski dengan cara pahit.... Ada toko namanya star toys rent di instagram yang menjual dan juga menyewakan pompa.
Nah harganya sih Rp.1.530.000 setara cincin emasku atau beli tv led yang paling kecil dan bisa hdmi. Sebenarnya ada yang lebih murah, Rp.1.300.000, tapi lisensi malaysia, jadi kalau ada apa-apa gak tanggung jawab itu yang jual soalnya gak diterima service center Indonesia. Nah toko star toys rent ini rupanya toko yang mendapat pengakuan resmi dari malish indonesia untuk area surabaya, alias distributor resmi gitu loh...
Berhubung butuh cepat karena udah kesakitan karena puting mlethek, saya segera mengontaknya. Bilangnya sih surabaya ongkir gratis dan diantar ke rumah.
Tanpa ba-bi-bu, langsung deh kukontak itu orangnya. Agak telat sih ngontaknya jam 7 malem gitu. Eh tapi orangnya bersedia loh kirim ke rumah.
Sementara mertua yang hebring mampir ke rumah nengok cucu, guweh menunggu star toys rent kirim malish aria impian. Xixiixi....
Tak lama, Datanglah bapak-bapak tionghoa bertubuh tambun dengan kaos putih dengan membawa kresek puyih berisi malish aria dual pump impian. Horeeee...
Setelah melakukan pembayaran di tempat, dan serah terima kartu garansi, saya pun dijelaskan cara pemakaiannya maupun kelemahan malish aria ini.
Waduh baru tau ya ternyata malish aria ada kelemahannya segala... *Nangis* kirain tanpa kelemahan, soalnya bagus sih.... Pink lagi.
Pertama, selangnya itu jangan sampai dicuci, atau pokoknya jangan kena air. Pun kalau terpaksa dicuci, pastikan airnya sudah kering bila akan memakainya. Kenapa, karena kalau ada airnya, nanti airnya kesedot masuk ke mesin. Trus mesinnya rusak. Hore.
Kedua, mungkin harus hati-hati saat melepas selang, karena karetnya bisa lepas juga. Karetnya sih ada dua, kalau lepas satu masih bisa. Nah kalau sudah lepas semua, akhirnya gak bisa dipakek. Hore.
Meskipun star toys rent juga jual sparepartnya semua, tapi ya kalau bisa jangan sampai rusaklah. Tapi kalau kelemahannya itu, insyaallah amanlah kalau pemakaiannya hati-hati.
Sebagai info, Malish aria ini akan berhenti sendiri setelah 30 menit pemakaian. Kenapa gitu, soalnya ada merek lain, lupa namanya, gak berhenti sendiri. Akhirnya pas mompa, si ibu menyusuinya ketiduran. Akhirnya kebakar itu mesinnya. Hiiii...
Pemakaian awal, malish aria ini sedikit melakukan pemanasan, setelah semenit-dua menit, baru melakukan penyedotan yang sesungguhnya. Penyedotannya bisa diatur sampai level 9. Kalau saya sih level 4 sama lima udah cukup ya. Soalnya sakit. Hix....
Trus kalau habis pakai, jangan ditinggal dhag. Setidaknya bilas atau direndam, ini disebabkan walau bagaimanapun, asi adalah darah. Jadi bersihkan dululah.
Malish aria ini bisa digunakan lewat listrik dengan colokan ponsel, dan powerbank. Nah sayangnya colokan yang disediakan ini pakai cucuk tiga, jadi harus dikonversi ke cucuk dua. Biasanya bapak star toys rent inj akan memberi bonus konversi colokannya, tapi lupa gak mbawak..... Yah... Beliau pun minta maaf sebesar-besarnya.
Trus dapat cooler bag juga. Bilangnya cooler bagnya lagi habis, jadi sayahh dikasih display. Gak papa wes pak, asal fungsinya normal semua.
Wah seru ya malish aria ini. Sementara ini saya senang sekali atas performanya. Dan penampilannya. Xixixi... Sampai bikin princess dija hebring dan iri. Kok gak milih yang ijo, gitu katanya. Dianya iri kok aku milih yang pink. Heheheheh,....
Rabu, 28 Desember 2016
Selasa, 27 Desember 2016
Ke Klinik Laktasi RSIA Lombok 22 Flores
Si dagu pentol ini sudah hampir dua bulan. Tapi emaknya ini masih kesulitan dalam menyusui. Meski beratnya sudah naik signifikan, namun perjuangan emaknya tidak kudah karena selalu kesakitan tiap menyusui...
Karena sudah gak tahan lagi menerima kenyataan, emaknya ini pergi ke klinik laktasi yang disediakan rsia lombok 22 flores.
Janji dibuat ubtuk konsultasi dan dijadwalkan selasa pukul 11. Berhubung belum konfirmasi lagi akhirnya diselat pasien lain jam 12nya. Karena susternya shikat dulu akhirny diundur jam 1. Gak papa wes.
Akhirnya pas masuk rs lombok 22, konsultasi laktasi dilakukan di poli bekas ruangan gigi. Awalnya mau diletakkan di ugd, berhubung polinya sudah kosong jadi bisa diberdayakan deh.
Ruangannya lucu dengan sprei dan bantal warna pink. Meski bukan warna favorit gueh, dan anak gueeeeehhhh bukan perempuan, tapi tetep seneng ya. Unyuuuu gitu.
Konsultasi laktasi ini ditangani oleh sustwr novi yang saya ingat sempat jaga saat saya melahirkan dan membantu saya pipis pasca melahirkan. Hiiii jadi ingat momen-momen itu.
Suster novi sangat sabar dan memberikan penjelasan begitu lengkap, termasuk membawa peralatan tempurny yang begitu keren, termasuk replika payudara, bonrka bayi, maupun buku-buku laktasi.
Disarankan payudara ku yang kebanyakan produksi ini untuk diponpa sesering mungkin karena overload. Overload ini mengakibatkan payudara menegang, mengencang dan membengkak. Untuk menguranginya harus dipompa dan dikonpres air hangat dambil dipijit-pijit ke arah puting.
Katanya harus sabar memang sakit dan meleuph. Kalau melepuh fan lecet disarankan dioleskan asi ke payudara.
Masih banyak penjelasannya sih, tapi ntar lagi deh nulisnya. Iseng-iseng nimbang fi bagian administrasi, si dagu pentol ini beratnya 6,05kg. Wooo hebaaat.. Alhamdulillah...
Pokoknya aku mau pompa elektrik malish aria yang pink itu. Belikan ya mas bojo...
Selasa, 20 Desember 2016
Imunisasi BCG
Si dagu pentol saatnya imunisasi bcg yang memang diberikan sebelum usianya dua bulan. Berhubung dr.effendy lagi sakit, akhirnya imunisasi ke dokter retno yang praktik di rs muslimat, tempat dimana anak harum ini dulunya direncanakan akan lahir...
Sdh terlambat jadwalnya dari dr effendy, jadi akhirnya ikut dr retno saja di jadwal praktik malam.
Sempat dag dig dug ya beratnta si mulut lincip ini berapa. Fyuuuh Alhamdulillah sdg 5,510 kg. Nah si anak mohawk ini pas ditimbang malah tidur. Kata oma, gimana kalau tidur disini aja ditinggal gitu ya. Xixixii....
Sengaja pakai baju seksi jaga-jaga kalau disuntik pahanya.
Pas masuk ruang dokternya jelasnya saya langsung grenyeng-grenyeng, soalnya si emaknya ini takut suntik. Keluar dulu deh trus denger suara bay nangis rasanya keiris gitu atiku...
Kasian nak.. gak tega rasanya. Nangisnya gak berhenti gitu.
Nanti suntik DPaT kalau sudah dua bulan ya.. *nangis*
Tumpengan Si Dagu Pentol
Jadi, si anak hanzolah ini belum aqiqah dan belum pula diselamati di antara pegawainya bapakku di toko. Aqiqah masih dalam perdebatan menggunakan vendor aqiqah mana dan di panti asuhan mana.
Setelah sempat tertunda seminggu, akhirnya acara selamatan diselenggarakan kecil-kecilan dengan menggelar tumpeng.
Seperti biasa, kami memilih tumpeng karena praktisnya dan megahnya. Ini bukan aqiqah, sehingga bukan kambing yang disajikan, tapi ayam.
Si dagu pentolnya yang diselamati malah bubuk saat acara digendong oma. Aba yang salah-salah terus menyebut zaki sebagai ajis (xixixixi...) memimpin doa di hadapan tumpeng yang dikelilingi oleh pegawai toko. Ah... serunyaa... hehhehe
Setelah berdoa, tumpeng langsung diserbu dan menjadi santapan bersama. Tumpeng yang pesan di depot giri jaya langganan ibuk itu pun ditemani oleh sebotol teh pucuk untuk tombo keseretennya. Xixixixi....
Alhamdulillah, semoga dengan selamatan kecil-kecilan ini, si kecil hanzolah dan semuanya yang hadir mendapat berkah amin-amin yaa robbal alamin.....
Setelah sempat tertunda seminggu, akhirnya acara selamatan diselenggarakan kecil-kecilan dengan menggelar tumpeng.
Seperti biasa, kami memilih tumpeng karena praktisnya dan megahnya. Ini bukan aqiqah, sehingga bukan kambing yang disajikan, tapi ayam.
Si dagu pentolnya yang diselamati malah bubuk saat acara digendong oma. Aba yang salah-salah terus menyebut zaki sebagai ajis (xixixixi...) memimpin doa di hadapan tumpeng yang dikelilingi oleh pegawai toko. Ah... serunyaa... hehhehe
Setelah berdoa, tumpeng langsung diserbu dan menjadi santapan bersama. Tumpeng yang pesan di depot giri jaya langganan ibuk itu pun ditemani oleh sebotol teh pucuk untuk tombo keseretennya. Xixixixi....
Alhamdulillah, semoga dengan selamatan kecil-kecilan ini, si kecil hanzolah dan semuanya yang hadir mendapat berkah amin-amin yaa robbal alamin.....
Selasa, 13 Desember 2016
Selapan Si Dagu Pentol
Dalam sebuah pertengkaran rumah tangga kami yang dibumbui hormon kehamilan tiba-tiba musuhi semua orang, disepakati jalau aqiqah diselenggarakan di panti asuhan saja. Lebih manfaat, lebih barokah. Daripada dikasih ke tetangga yang kebanyakan cincong.
Dalam hatiku aman wes, setelah ditilap kemarin di acara empat bulanan kehamilan yang diselenggarakan tanpa seizin yang hamil ini. Susah payah hamil, eeee kurang ajar banget bojo lancang ngadakan tanpa izin gue.
Ternyata mertua masih ngeyel ngadakan acara lagi, saking kepinginnya bikin acara. Bisa jadi karena faktor tetangga yang kebanyakan cincong dan nanya-nanya, nagih-nagih kapan ngadakan acara. Berhubung aqiqah ditaruh di panti, mereka adakan acara gak penting : selapan.
Allahuakbar.
Saya merasa dijebak.
Akhirnya karena undangan disebar mau gak mau gueh dan si dagu pentol boyongan ke Surabaya hanya untuk ngikutin acara ini.
Yaa Allah. Cuapek ya perjalanan malam-malam. Mana dagu pentol jadwal nangis malamnya gak berhenti-berhenti.
Sampe di rumah Surabaya, mertua gak berhenti gendong dagu pentol, sampai bisa dihitung deh berapa menit dagu pentol mancek kasur karena saking seringnya digendong.
Nangis mbatin aku, bikin aturan-aturan sendiri, dilanggar-dilanggar sendiri.
Malam itu dagu Pentol nangis sepanjang malam, dan mertua bantu gendong DENGAN CARANYA. Digoyang-goyang keras. Allahuakbar, untuk anak segitu harusnya belum boleh.
Nangis Mbatin.
Di rumah mertua, Dagu Pentol gak boleh nangis. Karena malu kedengaran tetangga. Kemepetan rumah.
Esoknya malam acara. Sekitar dua puluh orang ibu-ibu tetangga rempong datang. Ngajinya belepotan, sambil dibaan pula. Biasalah kurang santri, jadi ngajinya sebisanya gitu. Mana mau makan pake doa makan bersama-sama segala kayak anak tk.
Gak lupa ngundang keluargaku. Saking takutnya aku sendirian disana. Ada mbak evi, mas agung dan mbak anis bojonya. Oma safir, abah mak, serta anak-anaknya. Trus ada mbahbuk dan oma lilib juga. Oma luk dan oma Yuyik juga datang. Termasuk abah shrek.
Tari, rudi dan bio datang. Ayu gak datang karena ada rapat. Seperti biasa, Nazi ingkar janji setelah kebanyakan php. Sudah kuduga.
Malam itu oma luluk pulang, kuputuskan pulang seketika. Sebelum si mulut lincip nangis semalaman lagi.
Dalam hatiku aman wes, setelah ditilap kemarin di acara empat bulanan kehamilan yang diselenggarakan tanpa seizin yang hamil ini. Susah payah hamil, eeee kurang ajar banget bojo lancang ngadakan tanpa izin gue.
Ternyata mertua masih ngeyel ngadakan acara lagi, saking kepinginnya bikin acara. Bisa jadi karena faktor tetangga yang kebanyakan cincong dan nanya-nanya, nagih-nagih kapan ngadakan acara. Berhubung aqiqah ditaruh di panti, mereka adakan acara gak penting : selapan.
Allahuakbar.
Saya merasa dijebak.
Akhirnya karena undangan disebar mau gak mau gueh dan si dagu pentol boyongan ke Surabaya hanya untuk ngikutin acara ini.
Yaa Allah. Cuapek ya perjalanan malam-malam. Mana dagu pentol jadwal nangis malamnya gak berhenti-berhenti.
Sampe di rumah Surabaya, mertua gak berhenti gendong dagu pentol, sampai bisa dihitung deh berapa menit dagu pentol mancek kasur karena saking seringnya digendong.
Nangis mbatin aku, bikin aturan-aturan sendiri, dilanggar-dilanggar sendiri.
Malam itu dagu Pentol nangis sepanjang malam, dan mertua bantu gendong DENGAN CARANYA. Digoyang-goyang keras. Allahuakbar, untuk anak segitu harusnya belum boleh.
Nangis Mbatin.
Di rumah mertua, Dagu Pentol gak boleh nangis. Karena malu kedengaran tetangga. Kemepetan rumah.
Esoknya malam acara. Sekitar dua puluh orang ibu-ibu tetangga rempong datang. Ngajinya belepotan, sambil dibaan pula. Biasalah kurang santri, jadi ngajinya sebisanya gitu. Mana mau makan pake doa makan bersama-sama segala kayak anak tk.
Gak lupa ngundang keluargaku. Saking takutnya aku sendirian disana. Ada mbak evi, mas agung dan mbak anis bojonya. Oma safir, abah mak, serta anak-anaknya. Trus ada mbahbuk dan oma lilib juga. Oma luk dan oma Yuyik juga datang. Termasuk abah shrek.
Tari, rudi dan bio datang. Ayu gak datang karena ada rapat. Seperti biasa, Nazi ingkar janji setelah kebanyakan php. Sudah kuduga.
Malam itu oma luluk pulang, kuputuskan pulang seketika. Sebelum si mulut lincip nangis semalaman lagi.
Kamis, 17 November 2016
Free Massage dan Tutorial Bath Pasca Persalinan dari RS Lombok 22
Rupanya, rumah sakit lombok 22 memberikan gratis beberapa fasilitas pasca persalinan. Ada tiga fasilitas yaitu fasilitas potong rambut gratis, diskon 10ribu untuk kontrol ke dokter anak, dan free perawatan massage dan tutotial mandi oleh perawat yang datang ke rumah berupa kupon. Tiap jenis fasilitas gratis ini dengan batas waktu penggunaan yang beragam. Selain itu ada pula free cetakan kaki gratis..
Berhubung saya tidak rela anak hanzolah yang gondrong ini dicukur rambutnya, jadi kupon cukur rambut : medhag.
Berhubung dokter anak yang akan kami percayakan dalam tumbuh kembang si dagu pentol ini maunya di jombang dulu saja, kupon diskon kontrol dokter anak : nganggur. Toh ya diskon mek 10ewu ae lho. Gak sumbut.
Nah, tinggal kupon pijet gratis dan tutorial mandi yang susternya datang ke rumah gang paling memungkinkan untuk diberdayakan.
Saya lalu mbuat perjanjian dengan rumah sakit lalu mrngatur jadwal dengan suster yang akan datang ke rumah. Kupon ini terbatas hanya berlaku seminggu pasca persalinan.
Hari-H tiba dan saya pun berangkat dari Jombang ke Surabaya dengan seabrek agenda, yang diantaranya memberdayakan satu-satunya kupon yang bisa diberdayakan.
Saya sengaja membuat jadwal agak siang karena khawatir ada macet di perjalanan. Biasalah. Perjalanan Jombang-Surabaya itu gak semudah kedipan mata karena tol nya belum jadi selama lebih dari 20 tahun. Semoga Pak Jokowi segera meresmikannya. Aamiin.
Sesampainya di rumah surabaya, kami langsu g mempersiapkan aneka bakelan yang duperlukan, salah satunya baby oil yang memang diperuntukkan untuk pijat bayi, sesuai arahan dari susternya.
Lama ditunggu, mbak suster pun tiba dengan seragam biru kebesaran rs lombok 22 flores.
Wooo... tanpa babibu, mbak yang ramah ini lalu menjelaskan tata cara pijat yang diperuntukkan bayi. Setelah sebelumnya melakukan pengamatan bagaimana cara saya menyusui untuk.melihat benar+tidaknya pelekatan.
Pijat bayi memang berbeda dengan pijat dewasa. Pijat ini diberikan hanya dengan mengelus dan mengusap bayi, tanpa menekan kulit bayi sama sekali. Tentunya dengan lumuran baby oil yang sudah dipersiapkan oma. Hehehhe.....
Kemudian, bayi pun dipijat satu per satu bagiannya. Tangan, kaki, punghung, perut... si dagu pentol tampak menikmatinya.
Setelah dipandu mengenai pijat bayi, mbak susternya bilang saya bisa melakukannya sendiri di rumah sesuai arahan tadi. Sehingga bisa melancarkan sirkulasi darah anak. Manfaatnya juga beragam, selain bisa membuat anak rileks, juga mengurangi tingkat rewel karena bayi selalu dalam keadaan nyaman.
Dari sesi pijat, langsung sesi mandi, yang mana si dagu pentol ini dimandikan seperti cara mandi bayi pada umumnya.
Tutorial mandi ini diberikan karena memang biasanya ibu baru masih belum terlalu telaten memandikan bayi, sehingga diajarkan cara-cara memandikan setidaknya supaya pengetahuan dan kemampuannya bertambah.
Si dagu pentol tampak menikmati sesi mandinya. Selain itu, dia juga mancal-mancal saat dimandikan dalam posisi terbalik. Bayi berusia seminggu mancal-mancal, ngeri gak seh.
Setelah mandi, beberapa wejangan maupun tips diberikan oleh mbak perawatnya.
Diantaranya :
Bayi tidak perlu dibedong terlalu rapat, karena akan menghambat pergerakannya dalam latihan gerak motoriknya.
Besong rapat bukan untuk mrluruskan kaki bayi. Kaki bayi memang bengkok hingga usia satu-dua tahun. Setelahnya akan lurus sendiri. Pun kalau misalnya ada cacat bawaan, pasti langsung kelihatan.
Bayi tidak perlu dibedaki karena akan menutupi pori-porinya yang super kecil itu..
Saat bayi sumuk, bolehlah pakai kipas angin, tapi jangan terlalu nggebes. Penggunaan AC lebih baik di suhu 24-27 darojat.
Dan beberapa wejangan lain yang aku lupa....
Selesai acara, si mbak perawat berpamitan. Kami mengucapkan terima kasih. Tak lupa lapis kukus surabaya yang lagi booming padahal aslinya dari bogir itu, kami bawakan sebagai buah mata.
Terimakasih banyak....
Berhubung saya tidak rela anak hanzolah yang gondrong ini dicukur rambutnya, jadi kupon cukur rambut : medhag.
Berhubung dokter anak yang akan kami percayakan dalam tumbuh kembang si dagu pentol ini maunya di jombang dulu saja, kupon diskon kontrol dokter anak : nganggur. Toh ya diskon mek 10ewu ae lho. Gak sumbut.
Nah, tinggal kupon pijet gratis dan tutorial mandi yang susternya datang ke rumah gang paling memungkinkan untuk diberdayakan.
Saya lalu mbuat perjanjian dengan rumah sakit lalu mrngatur jadwal dengan suster yang akan datang ke rumah. Kupon ini terbatas hanya berlaku seminggu pasca persalinan.
Hari-H tiba dan saya pun berangkat dari Jombang ke Surabaya dengan seabrek agenda, yang diantaranya memberdayakan satu-satunya kupon yang bisa diberdayakan.
Saya sengaja membuat jadwal agak siang karena khawatir ada macet di perjalanan. Biasalah. Perjalanan Jombang-Surabaya itu gak semudah kedipan mata karena tol nya belum jadi selama lebih dari 20 tahun. Semoga Pak Jokowi segera meresmikannya. Aamiin.
Sesampainya di rumah surabaya, kami langsu g mempersiapkan aneka bakelan yang duperlukan, salah satunya baby oil yang memang diperuntukkan untuk pijat bayi, sesuai arahan dari susternya.
Lama ditunggu, mbak suster pun tiba dengan seragam biru kebesaran rs lombok 22 flores.
Wooo... tanpa babibu, mbak yang ramah ini lalu menjelaskan tata cara pijat yang diperuntukkan bayi. Setelah sebelumnya melakukan pengamatan bagaimana cara saya menyusui untuk.melihat benar+tidaknya pelekatan.
Pijat bayi memang berbeda dengan pijat dewasa. Pijat ini diberikan hanya dengan mengelus dan mengusap bayi, tanpa menekan kulit bayi sama sekali. Tentunya dengan lumuran baby oil yang sudah dipersiapkan oma. Hehehhe.....
Kemudian, bayi pun dipijat satu per satu bagiannya. Tangan, kaki, punghung, perut... si dagu pentol tampak menikmatinya.
Setelah dipandu mengenai pijat bayi, mbak susternya bilang saya bisa melakukannya sendiri di rumah sesuai arahan tadi. Sehingga bisa melancarkan sirkulasi darah anak. Manfaatnya juga beragam, selain bisa membuat anak rileks, juga mengurangi tingkat rewel karena bayi selalu dalam keadaan nyaman.
Dari sesi pijat, langsung sesi mandi, yang mana si dagu pentol ini dimandikan seperti cara mandi bayi pada umumnya.
Tutorial mandi ini diberikan karena memang biasanya ibu baru masih belum terlalu telaten memandikan bayi, sehingga diajarkan cara-cara memandikan setidaknya supaya pengetahuan dan kemampuannya bertambah.
Si dagu pentol tampak menikmati sesi mandinya. Selain itu, dia juga mancal-mancal saat dimandikan dalam posisi terbalik. Bayi berusia seminggu mancal-mancal, ngeri gak seh.
Setelah mandi, beberapa wejangan maupun tips diberikan oleh mbak perawatnya.
Diantaranya :
Bayi tidak perlu dibedong terlalu rapat, karena akan menghambat pergerakannya dalam latihan gerak motoriknya.
Besong rapat bukan untuk mrluruskan kaki bayi. Kaki bayi memang bengkok hingga usia satu-dua tahun. Setelahnya akan lurus sendiri. Pun kalau misalnya ada cacat bawaan, pasti langsung kelihatan.
Bayi tidak perlu dibedaki karena akan menutupi pori-porinya yang super kecil itu..
Saat bayi sumuk, bolehlah pakai kipas angin, tapi jangan terlalu nggebes. Penggunaan AC lebih baik di suhu 24-27 darojat.
Dan beberapa wejangan lain yang aku lupa....
Selesai acara, si mbak perawat berpamitan. Kami mengucapkan terima kasih. Tak lupa lapis kukus surabaya yang lagi booming padahal aslinya dari bogir itu, kami bawakan sebagai buah mata.
Terimakasih banyak....
Selasa, 08 November 2016
Giving Birth Process Part 7 : Flop!!!!
Dr. Amang sudah siap dengan baju kebesarannya. Perawat yang menyiapkan perlengkapan dan beberapa yang lain ikut masuk. Sesekali dr amang menyapa para kru yang lain sambil geguyonan apaan gitu di sampingku, dan ada satu ibu-ibu yang sedikit senior. Sepertinya itu bidannya yang bertugas membantu persalinan.
Lampu sorot dinyalakan dan posisiku siap untuk melahirkan. Sesekali berasa kontraksi. Tapi intensitasnya menurun. Rupanya masih bukaan sembilan.
Saat dicek detak jantung bayi, dengan alat yang lucu itu, rupanya detak jantungnya tak beraturan, sehingga intensitas kontraksi menurun. Bisa jadi karena si jabang beybeh kelelahan akibat lamanya durasi mendobrak pintu dan ketuban yang mulai menipis.
Akhirnya diputuskan penambahan oksigen pada si ibu, yang notabene gueh, dengan corong oksigen yang lebih besar, bukan hanya selang seperti sebelumnya. Saya diminta untuk menghirup oksigen dalam-dalam supaya tersalur ke bayi dan memudahkan kemunculan kontraksi lagi.
Nah, disini susternya sempat ditegur halus sama dokter amang, karena terlalu lama menyiapkan oksigen untuk pasien. "Ayolah cepat... Jangan lamban.", Kata Dr. Amanv ke susternya. Setuju banget. Rasanya dari tadi mereka tampak santai sekali menyiapkan aneka perlengkapan.
Meski kontraksi menurun, saya masih sempat merasakan sedikit kontraksi dengan sensasi pengen ngeden dengan sendirinya.
Dalam fase ini saya tidak terlalu ingat bagaimana urutannya. Tapi ingat kalau dr. Amang instruksi ke suster untuk mengambil gambar lewat ponselnya. Trus posisiku pokoknya tangan kanan megang tangan suami, tangan kiri megang tangan ibuk. Baik banget ya rumah sakitnya gak ngusir salah satu. Salut wes.
Dr amang bilang, kalau bayinya masih belum terlalu turun, meski sudah bukaannya banyak. Di sisi lain, guwehhhh sebagai yang ngeden ini kadang ada sensasi pengen ngeden sendiri. Sampe dilarang sama dr amang, "jangan ngeden dulu, atur napas..."
Yah namanya manut ya, coba atur napas juga sudah sulit tapi ya tetep berusaha. Berasa keringat mengucur dari dahi. Dan ak sempat ngusap dan minta minum ke suami. Si mas bojo dengan sigap gupuh dan bingung langsung ambilkan dan kuminum sebisanya.
Tiba-tiba ada sensasi pengen ngeden gimanaaa gitu. "Aduh aku gak bisa.... gak bisa ngempet ngeden.... Hiiiiiiiih...", Sampe bersuara aku. Kata Dr amang jangan bersuara. Iya juga seh, setelah bersuara jadi haus ak pengen mimik lagi. Tapi adik bayinya belum juga keluar. Nah dalam detik itu kayaknya aku sampe ngeluarin ngengek deh. Gak sengaja saking ngedennya gitu. Jadi baru sadar itulah fungsinya ember...
Kembali aku mikir : semua kru disitu, baik suster bidan dan dojternya sudah ribuan kali nangani orang melahirkan. Jafi gak sedikit dari mereka yang ngengek. Jadi gak usah malu. Ayo, Konsentrasi ke persalinan.
Masih ditunggu, hingga akhirnya dr. Amang putuskan untuk ambil tindakan vacuum.
Dalam keadaan gitu guweehhhh masih sempat mikir : "waduh nih nambah ntar billingnya..." Soalnya kalau diambil tindakan vacuum kan nambah duit sekitar dua atau tiga Jeti gituh.
Aku gak inget kejadiannya, soalnya gak lihat dan gak kerasa. Mungkin karena pengaruh bius. Tapi kata masku dikira kop vakumnya kayak sedot wc gitu, tapi ternyata enggak. Kop vakumnya kayak corong lampu luar yang terbuat dari besi. Wihh... Gak papa taa itu..
Mesin vakumnya cuma berfungsi sebentar saja. Zzuuuung...... Lalu berhenti, tapi bayi belum keluar. Lalu aku diminta untuk berbaring setengah duduk, dengan dibantu ibu dan masku dan beberapa suster. Dengan keadaan dagu menempel dekat dengan dada. Lalu ada suster yang bantuin dorong perutku yang isinya adik bayi turun ke bawah. Rasanya mirip dirukyah.
Trus aku minta minum lagi. Trus tiba-tiba aku pengen ngeden lagi, trus aku sempat bilang aku gak bisa nahan ngeden maaf ya. dan mungkin ada sekali dua kali aku ngeden bersuara lagi sampe dibilangi lagi jangan bersuara. Sampe ibuk pun bisikin jangan bersuara. Tapi ngeden yang ketiga wis gak bisa nahan lagi aku tetep bersuara, tiba-tiba flop... Kulihat makhluk yang berwarna abu-abu keluar dari bagian bawah tubuhku.
Dr. Amang perintahkan perawat untuk matikan ac. Mungkin karena kehadiran si jabang beybeh ini biar gak kedinginan.
Saat flop itu aku terheran-heran sekaligus lega selega-leganya umat.
Makhluk itu langsung diletakkan di dadaku. Dr. Amang menyapa si orok ini dengan berkata, "maaf ya, capek ya?". Lalu karena belum menangis bayinya diberi selang apaan gitu trus menangislah si orok. "Oek...oek.."
Yang kupikirkan saat itu adalah, jelas aku bingung. Sempat kupegang tangan kirinya yang warnanya masih abu-abu itu. Dalam hati ku berkata, "makasi ya nak, sudah bantu ibu lahir lewat persalinan normal, maaf ya lama tadi sampe divakum ya....".
Lalu sebentar saja berhubung aku bingung jadi lupa gak IMD.
Masku lalu diminta oleh Dr amang untuk mendekat padanya. Lalu dipersilakan oleh Dr amang untuk memotong plasenta bayi.
Kemudian Si orok langsung dibawa ke ruang bayi, dan ibuku langsung ngikuti kesana.
Selanjutnya, masku diminta mendekat ke arah bagian bawah tubuhku. Berhubung ak masih bingung-bingung takut-takut gimana gitu ak diem aja. Ternyata masku dipersilakan oleh dr. amang menarik plasenta yang tersisa di rahimku. Seketika flop, sisa plasenta keluar dan byorrrrr darah jatuh ke ember yang sudah disiapkan.
Inilah istimewanya dokter amang, dalam keadaan gini suami diberikan kesempatan untuk berkontribusi dalam persalinan lebih dalam semampunya, dan dalam panduan dokter. Untung ya aku juga milih suami yang istimewa, yang gak kabur lihat darah, yang tangguh dan mau bantuin ginian.
Suster yang tadinya ditugasi memotret juga masih sigap sentosa mengambil gambar. Sempat aku disuru senyum. Wes gak mikir senyum yo. Ini bingung-bingung gak jelas iki.
Sembari suster Lainnya bergegas membereskan perlengkapan, masku menerima plasenta dan mengikuti ke ruang bayi untuk mengadzani si orok.
Tinggal saya sendiri dan dr amang dan seorang suster di ruangan. Rupanya ini adalah saat dimana emplukku dijahit.
Berhubung mungkin masih sakit karena melahirkan, dan masih sisa bius yang tadi yang kapan nyuntiknya bahkan saya tak tahu, rasa saat dijahit gak seberapa sakit. Cuma agak sedikit horor dimana ada sensasi benang keluar dan masuk diantara emplukmu gituhh.
Karena mulai sumuk dan masih keringetan bekasnya melahirkan tadi, aku minta ac-nya nyalakan opoO.... Trus dinyalakan sama susternya.
Sesekali dr. Amang atau suster bergantian memencet perutku. Dan byorrrrr keluar cairan yang siap jatuh ke ember. Itu bukan lagi ketuban, tapi darah. Pemencetan itu berfungsi untuk membantu mengeluarkan sisa 'jejak kehamilan' dari rahim.
Kadang aku masih njerit ketakutan, meski gak sakit rasanya. Ada byorrnya itu waktu dipencet. "Hiiii apa ituuuu..... ", Kataku. Kata dokter amang wong gak diapa-apain kok njerit. Yaa habisnya ada geli dikit sih.
Kerasa jahitannya agak banyak. Dan kayaknya pantatku sobek juga. Ini halusinasi ku apa gimana, tapi kayaknya sobeknya menyamping. Mungkin karena aku heboh tadi ya jadi agak gak sesuai prosedur. Xixixi. Wes gak urus aku jahitan berapa, aku juga gak berani nanya. Pokoknya si jabang beybeh sudah lahir normal selamat wes sukur Alhamdulillah pol gak karu-karuan.
Trus dokter amang bilang, "nanti kalau sudah sembuh, ayo dicari lukanya. Kalau ketemu nanti tak kasih hadiah". Haduh... Wes gak mikir nyarinya lhoooooo...
Lalu dokter amang bilang, oke udah selesai. Selamat ya, sambil tersenyum ke aku. Aku cuma mewek gitu, antara senyum sama nangis gimana gituhh. Terimakasih...
Lampu sorot dinyalakan dan posisiku siap untuk melahirkan. Sesekali berasa kontraksi. Tapi intensitasnya menurun. Rupanya masih bukaan sembilan.
Saat dicek detak jantung bayi, dengan alat yang lucu itu, rupanya detak jantungnya tak beraturan, sehingga intensitas kontraksi menurun. Bisa jadi karena si jabang beybeh kelelahan akibat lamanya durasi mendobrak pintu dan ketuban yang mulai menipis.
Akhirnya diputuskan penambahan oksigen pada si ibu, yang notabene gueh, dengan corong oksigen yang lebih besar, bukan hanya selang seperti sebelumnya. Saya diminta untuk menghirup oksigen dalam-dalam supaya tersalur ke bayi dan memudahkan kemunculan kontraksi lagi.
Nah, disini susternya sempat ditegur halus sama dokter amang, karena terlalu lama menyiapkan oksigen untuk pasien. "Ayolah cepat... Jangan lamban.", Kata Dr. Amanv ke susternya. Setuju banget. Rasanya dari tadi mereka tampak santai sekali menyiapkan aneka perlengkapan.
Meski kontraksi menurun, saya masih sempat merasakan sedikit kontraksi dengan sensasi pengen ngeden dengan sendirinya.
Dalam fase ini saya tidak terlalu ingat bagaimana urutannya. Tapi ingat kalau dr. Amang instruksi ke suster untuk mengambil gambar lewat ponselnya. Trus posisiku pokoknya tangan kanan megang tangan suami, tangan kiri megang tangan ibuk. Baik banget ya rumah sakitnya gak ngusir salah satu. Salut wes.
Dr amang bilang, kalau bayinya masih belum terlalu turun, meski sudah bukaannya banyak. Di sisi lain, guwehhhh sebagai yang ngeden ini kadang ada sensasi pengen ngeden sendiri. Sampe dilarang sama dr amang, "jangan ngeden dulu, atur napas..."
Yah namanya manut ya, coba atur napas juga sudah sulit tapi ya tetep berusaha. Berasa keringat mengucur dari dahi. Dan ak sempat ngusap dan minta minum ke suami. Si mas bojo dengan sigap gupuh dan bingung langsung ambilkan dan kuminum sebisanya.
Tiba-tiba ada sensasi pengen ngeden gimanaaa gitu. "Aduh aku gak bisa.... gak bisa ngempet ngeden.... Hiiiiiiiih...", Sampe bersuara aku. Kata Dr amang jangan bersuara. Iya juga seh, setelah bersuara jadi haus ak pengen mimik lagi. Tapi adik bayinya belum juga keluar. Nah dalam detik itu kayaknya aku sampe ngeluarin ngengek deh. Gak sengaja saking ngedennya gitu. Jadi baru sadar itulah fungsinya ember...
Kembali aku mikir : semua kru disitu, baik suster bidan dan dojternya sudah ribuan kali nangani orang melahirkan. Jafi gak sedikit dari mereka yang ngengek. Jadi gak usah malu. Ayo, Konsentrasi ke persalinan.
Masih ditunggu, hingga akhirnya dr. Amang putuskan untuk ambil tindakan vacuum.
Dalam keadaan gitu guweehhhh masih sempat mikir : "waduh nih nambah ntar billingnya..." Soalnya kalau diambil tindakan vacuum kan nambah duit sekitar dua atau tiga Jeti gituh.
Aku gak inget kejadiannya, soalnya gak lihat dan gak kerasa. Mungkin karena pengaruh bius. Tapi kata masku dikira kop vakumnya kayak sedot wc gitu, tapi ternyata enggak. Kop vakumnya kayak corong lampu luar yang terbuat dari besi. Wihh... Gak papa taa itu..
Mesin vakumnya cuma berfungsi sebentar saja. Zzuuuung...... Lalu berhenti, tapi bayi belum keluar. Lalu aku diminta untuk berbaring setengah duduk, dengan dibantu ibu dan masku dan beberapa suster. Dengan keadaan dagu menempel dekat dengan dada. Lalu ada suster yang bantuin dorong perutku yang isinya adik bayi turun ke bawah. Rasanya mirip dirukyah.
Trus aku minta minum lagi. Trus tiba-tiba aku pengen ngeden lagi, trus aku sempat bilang aku gak bisa nahan ngeden maaf ya. dan mungkin ada sekali dua kali aku ngeden bersuara lagi sampe dibilangi lagi jangan bersuara. Sampe ibuk pun bisikin jangan bersuara. Tapi ngeden yang ketiga wis gak bisa nahan lagi aku tetep bersuara, tiba-tiba flop... Kulihat makhluk yang berwarna abu-abu keluar dari bagian bawah tubuhku.
Dr. Amang perintahkan perawat untuk matikan ac. Mungkin karena kehadiran si jabang beybeh ini biar gak kedinginan.
Saat flop itu aku terheran-heran sekaligus lega selega-leganya umat.
Makhluk itu langsung diletakkan di dadaku. Dr. Amang menyapa si orok ini dengan berkata, "maaf ya, capek ya?". Lalu karena belum menangis bayinya diberi selang apaan gitu trus menangislah si orok. "Oek...oek.."
Yang kupikirkan saat itu adalah, jelas aku bingung. Sempat kupegang tangan kirinya yang warnanya masih abu-abu itu. Dalam hati ku berkata, "makasi ya nak, sudah bantu ibu lahir lewat persalinan normal, maaf ya lama tadi sampe divakum ya....".
Lalu sebentar saja berhubung aku bingung jadi lupa gak IMD.
Masku lalu diminta oleh Dr amang untuk mendekat padanya. Lalu dipersilakan oleh Dr amang untuk memotong plasenta bayi.
Kemudian Si orok langsung dibawa ke ruang bayi, dan ibuku langsung ngikuti kesana.
Selanjutnya, masku diminta mendekat ke arah bagian bawah tubuhku. Berhubung ak masih bingung-bingung takut-takut gimana gitu ak diem aja. Ternyata masku dipersilakan oleh dr. amang menarik plasenta yang tersisa di rahimku. Seketika flop, sisa plasenta keluar dan byorrrrr darah jatuh ke ember yang sudah disiapkan.
Inilah istimewanya dokter amang, dalam keadaan gini suami diberikan kesempatan untuk berkontribusi dalam persalinan lebih dalam semampunya, dan dalam panduan dokter. Untung ya aku juga milih suami yang istimewa, yang gak kabur lihat darah, yang tangguh dan mau bantuin ginian.
Suster yang tadinya ditugasi memotret juga masih sigap sentosa mengambil gambar. Sempat aku disuru senyum. Wes gak mikir senyum yo. Ini bingung-bingung gak jelas iki.
Sembari suster Lainnya bergegas membereskan perlengkapan, masku menerima plasenta dan mengikuti ke ruang bayi untuk mengadzani si orok.
Tinggal saya sendiri dan dr amang dan seorang suster di ruangan. Rupanya ini adalah saat dimana emplukku dijahit.
Berhubung mungkin masih sakit karena melahirkan, dan masih sisa bius yang tadi yang kapan nyuntiknya bahkan saya tak tahu, rasa saat dijahit gak seberapa sakit. Cuma agak sedikit horor dimana ada sensasi benang keluar dan masuk diantara emplukmu gituhh.
Karena mulai sumuk dan masih keringetan bekasnya melahirkan tadi, aku minta ac-nya nyalakan opoO.... Trus dinyalakan sama susternya.
Sesekali dr. Amang atau suster bergantian memencet perutku. Dan byorrrrr keluar cairan yang siap jatuh ke ember. Itu bukan lagi ketuban, tapi darah. Pemencetan itu berfungsi untuk membantu mengeluarkan sisa 'jejak kehamilan' dari rahim.
Kadang aku masih njerit ketakutan, meski gak sakit rasanya. Ada byorrnya itu waktu dipencet. "Hiiii apa ituuuu..... ", Kataku. Kata dokter amang wong gak diapa-apain kok njerit. Yaa habisnya ada geli dikit sih.
Kerasa jahitannya agak banyak. Dan kayaknya pantatku sobek juga. Ini halusinasi ku apa gimana, tapi kayaknya sobeknya menyamping. Mungkin karena aku heboh tadi ya jadi agak gak sesuai prosedur. Xixixi. Wes gak urus aku jahitan berapa, aku juga gak berani nanya. Pokoknya si jabang beybeh sudah lahir normal selamat wes sukur Alhamdulillah pol gak karu-karuan.
Trus dokter amang bilang, "nanti kalau sudah sembuh, ayo dicari lukanya. Kalau ketemu nanti tak kasih hadiah". Haduh... Wes gak mikir nyarinya lhoooooo...
Lalu dokter amang bilang, oke udah selesai. Selamat ya, sambil tersenyum ke aku. Aku cuma mewek gitu, antara senyum sama nangis gimana gituhh. Terimakasih...
Langganan:
Postingan (Atom)





















