Selasa, 20 Desember 2016

Imunisasi BCG

0 komentar
Si dagu pentol saatnya imunisasi bcg yang memang diberikan sebelum usianya dua bulan. Berhubung dr.effendy lagi sakit, akhirnya imunisasi ke dokter retno yang praktik di rs muslimat, tempat dimana anak harum ini dulunya direncanakan akan lahir...

Sdh terlambat jadwalnya dari dr effendy, jadi akhirnya ikut dr retno saja di jadwal praktik malam.









Sempat dag dig dug ya beratnta si mulut lincip ini berapa. Fyuuuh Alhamdulillah sdg 5,510 kg. Nah si anak mohawk ini pas ditimbang malah tidur. Kata oma, gimana kalau tidur disini aja ditinggal gitu ya. Xixixii....

Sengaja pakai baju seksi jaga-jaga kalau disuntik pahanya.

Pas masuk ruang dokternya jelasnya saya langsung grenyeng-grenyeng, soalnya si emaknya ini takut suntik. Keluar dulu deh trus denger suara bay nangis rasanya keiris gitu atiku...

Kasian nak.. gak tega rasanya. Nangisnya gak berhenti gitu.

Nanti suntik DPaT kalau sudah dua bulan ya.. *nangis*

Tumpengan Si Dagu Pentol

0 komentar
Jadi, si anak hanzolah ini belum  aqiqah dan belum pula diselamati di antara pegawainya bapakku di toko. Aqiqah masih dalam perdebatan menggunakan vendor aqiqah mana dan di panti asuhan mana.

Setelah sempat tertunda seminggu, akhirnya acara selamatan diselenggarakan kecil-kecilan dengan menggelar tumpeng.

Seperti biasa, kami memilih tumpeng karena praktisnya dan megahnya. Ini bukan aqiqah, sehingga bukan kambing yang disajikan, tapi ayam.

Si dagu pentolnya yang diselamati malah bubuk saat acara digendong oma. Aba yang salah-salah terus menyebut zaki sebagai ajis (xixixixi...) memimpin doa di hadapan tumpeng yang dikelilingi oleh pegawai toko. Ah... serunyaa... hehhehe

Setelah berdoa, tumpeng langsung diserbu dan menjadi santapan bersama. Tumpeng yang pesan di depot giri jaya langganan ibuk itu pun ditemani oleh sebotol teh pucuk untuk tombo keseretennya. Xixixixi....

Alhamdulillah, semoga dengan selamatan kecil-kecilan ini, si kecil hanzolah dan semuanya yang hadir mendapat berkah amin-amin yaa robbal alamin.....

Selasa, 13 Desember 2016

Selapan Si Dagu Pentol

0 komentar
Dalam sebuah pertengkaran rumah tangga kami yang dibumbui hormon kehamilan tiba-tiba musuhi semua orang, disepakati jalau aqiqah diselenggarakan di panti asuhan saja. Lebih manfaat, lebih barokah. Daripada dikasih ke tetangga yang kebanyakan cincong.

Dalam hatiku aman wes, setelah ditilap kemarin di acara empat bulanan kehamilan yang diselenggarakan tanpa seizin yang hamil ini. Susah payah hamil, eeee kurang ajar banget bojo lancang ngadakan tanpa izin gue.

Ternyata mertua masih ngeyel ngadakan acara lagi, saking kepinginnya bikin acara. Bisa jadi karena faktor tetangga yang kebanyakan cincong dan nanya-nanya, nagih-nagih kapan ngadakan acara. Berhubung aqiqah ditaruh di panti, mereka adakan acara gak penting : selapan.

Allahuakbar.
Saya merasa dijebak.



Akhirnya karena undangan disebar mau gak mau gueh dan si dagu pentol boyongan ke Surabaya hanya untuk ngikutin acara ini.

Yaa Allah. Cuapek ya perjalanan malam-malam. Mana dagu pentol jadwal nangis malamnya gak berhenti-berhenti.

Sampe di rumah Surabaya, mertua gak berhenti gendong dagu pentol, sampai bisa dihitung deh berapa menit dagu pentol mancek kasur karena saking seringnya digendong.

Nangis mbatin aku, bikin aturan-aturan sendiri, dilanggar-dilanggar sendiri.

Malam itu dagu Pentol nangis sepanjang malam, dan mertua bantu gendong DENGAN CARANYA. Digoyang-goyang keras. Allahuakbar, untuk anak segitu harusnya belum boleh.

Nangis Mbatin.

Di rumah mertua, Dagu Pentol gak boleh nangis. Karena malu kedengaran tetangga. Kemepetan rumah.

Esoknya malam acara. Sekitar dua puluh orang ibu-ibu tetangga rempong datang. Ngajinya belepotan, sambil dibaan pula. Biasalah kurang santri, jadi ngajinya sebisanya gitu. Mana mau makan pake doa makan bersama-sama segala kayak anak tk.

Gak lupa ngundang keluargaku. Saking takutnya aku sendirian disana. Ada mbak evi, mas agung dan mbak anis bojonya. Oma safir, abah mak, serta anak-anaknya. Trus ada mbahbuk dan oma lilib juga. Oma luk dan oma Yuyik juga datang. Termasuk abah shrek.

Tari, rudi dan bio datang. Ayu gak datang karena ada rapat. Seperti biasa, Nazi ingkar janji setelah kebanyakan php. Sudah kuduga.

Malam itu oma luluk pulang, kuputuskan pulang seketika. Sebelum si mulut lincip nangis semalaman lagi.







Kamis, 17 November 2016

Free Massage dan Tutorial Bath Pasca Persalinan dari RS Lombok 22

0 komentar
Rupanya, rumah sakit lombok 22 memberikan gratis beberapa fasilitas pasca persalinan. Ada tiga fasilitas yaitu fasilitas potong rambut gratis, diskon 10ribu untuk kontrol ke dokter anak, dan free perawatan massage dan  tutotial mandi oleh perawat yang datang ke rumah berupa kupon. Tiap jenis fasilitas gratis ini dengan batas waktu penggunaan yang beragam. Selain itu ada pula free cetakan kaki gratis..



Berhubung saya tidak rela anak hanzolah yang gondrong ini dicukur rambutnya, jadi kupon cukur rambut : medhag.

Berhubung dokter anak yang akan kami percayakan dalam tumbuh kembang si dagu pentol ini maunya di jombang dulu saja, kupon diskon kontrol dokter anak : nganggur. Toh ya diskon mek 10ewu ae lho. Gak sumbut.

Nah, tinggal kupon pijet gratis dan tutorial mandi yang susternya datang ke rumah gang paling memungkinkan untuk diberdayakan.

Saya lalu mbuat perjanjian dengan rumah sakit lalu mrngatur jadwal dengan suster yang akan datang ke rumah. Kupon ini terbatas hanya  berlaku seminggu pasca persalinan.

Hari-H tiba dan saya pun berangkat dari Jombang ke Surabaya dengan seabrek agenda, yang diantaranya memberdayakan satu-satunya kupon yang bisa diberdayakan.

Saya sengaja membuat jadwal agak siang karena khawatir ada macet di perjalanan. Biasalah. Perjalanan Jombang-Surabaya itu gak semudah kedipan mata karena tol nya belum jadi selama lebih dari 20 tahun. Semoga Pak Jokowi segera meresmikannya. Aamiin.

Sesampainya di rumah surabaya, kami langsu g mempersiapkan aneka bakelan yang duperlukan, salah satunya baby oil yang memang diperuntukkan untuk pijat bayi, sesuai arahan dari susternya.

Lama ditunggu, mbak suster pun tiba dengan seragam biru kebesaran rs lombok 22 flores.

Wooo... tanpa babibu, mbak yang ramah ini lalu menjelaskan tata cara pijat yang diperuntukkan bayi. Setelah sebelumnya melakukan pengamatan bagaimana cara saya menyusui untuk.melihat benar+tidaknya pelekatan.

Pijat bayi memang berbeda dengan pijat dewasa. Pijat ini diberikan hanya dengan mengelus dan mengusap bayi, tanpa menekan kulit bayi sama sekali. Tentunya dengan lumuran baby oil yang sudah dipersiapkan oma. Hehehhe.....

Kemudian, bayi pun dipijat satu per satu bagiannya. Tangan, kaki, punghung, perut... si dagu pentol tampak menikmatinya.

Setelah dipandu mengenai pijat bayi, mbak susternya bilang saya bisa melakukannya sendiri di rumah sesuai arahan tadi. Sehingga bisa melancarkan sirkulasi darah anak. Manfaatnya juga beragam, selain bisa membuat anak rileks, juga mengurangi tingkat rewel karena bayi selalu dalam keadaan nyaman.

Dari sesi pijat, langsung sesi mandi, yang mana si dagu pentol ini dimandikan seperti cara mandi bayi pada umumnya.

Tutorial mandi ini diberikan karena memang biasanya ibu baru masih belum terlalu telaten memandikan bayi, sehingga diajarkan cara-cara memandikan setidaknya supaya pengetahuan dan kemampuannya bertambah.

Si dagu pentol tampak menikmati sesi mandinya. Selain itu, dia juga mancal-mancal saat dimandikan dalam posisi terbalik. Bayi berusia seminggu mancal-mancal, ngeri gak seh.

Setelah mandi, beberapa wejangan maupun tips diberikan oleh mbak perawatnya.

Diantaranya :
Bayi tidak perlu dibedong terlalu rapat, karena akan menghambat pergerakannya dalam latihan gerak motoriknya.

Besong rapat bukan untuk mrluruskan kaki bayi. Kaki bayi memang bengkok hingga usia satu-dua tahun. Setelahnya akan lurus sendiri. Pun kalau misalnya ada cacat bawaan, pasti langsung kelihatan.

Bayi tidak perlu dibedaki karena akan menutupi pori-porinya yang super kecil itu..

Saat bayi sumuk, bolehlah pakai kipas angin, tapi jangan terlalu nggebes. Penggunaan AC lebih baik di suhu 24-27 darojat.

Dan beberapa wejangan lain yang aku lupa....

Selesai acara, si mbak perawat berpamitan. Kami mengucapkan terima kasih. Tak lupa lapis kukus surabaya yang lagi booming padahal aslinya dari bogir itu, kami bawakan sebagai buah mata.

Terimakasih banyak....


Selasa, 08 November 2016

Giving Birth Process Part 7 : Flop!!!!

0 komentar
Dr. Amang sudah siap dengan baju kebesarannya. Perawat yang menyiapkan perlengkapan dan beberapa yang lain ikut masuk. Sesekali dr amang menyapa para kru yang lain sambil geguyonan apaan gitu di sampingku, dan ada satu ibu-ibu yang sedikit senior. Sepertinya itu bidannya yang bertugas membantu persalinan.

Lampu sorot dinyalakan dan posisiku siap untuk melahirkan. Sesekali berasa kontraksi. Tapi intensitasnya menurun. Rupanya masih bukaan sembilan.

Saat dicek detak jantung bayi, dengan alat yang lucu itu, rupanya detak jantungnya tak beraturan, sehingga intensitas kontraksi menurun. Bisa jadi karena si jabang beybeh kelelahan akibat lamanya durasi mendobrak pintu dan ketuban yang mulai menipis.

Akhirnya diputuskan penambahan oksigen pada si ibu, yang notabene gueh, dengan corong oksigen yang lebih besar, bukan hanya selang seperti sebelumnya. Saya diminta untuk menghirup oksigen dalam-dalam supaya tersalur ke bayi dan memudahkan kemunculan kontraksi lagi.

Nah, disini susternya sempat ditegur halus sama dokter amang, karena terlalu lama menyiapkan oksigen untuk pasien. "Ayolah cepat... Jangan lamban.", Kata Dr. Amanv ke susternya. Setuju banget. Rasanya dari tadi mereka tampak santai sekali menyiapkan aneka perlengkapan.

Meski kontraksi menurun, saya masih sempat merasakan sedikit kontraksi dengan sensasi pengen ngeden dengan sendirinya.

Dalam fase ini saya tidak terlalu ingat bagaimana urutannya. Tapi ingat kalau dr. Amang instruksi ke suster untuk mengambil gambar lewat ponselnya. Trus posisiku pokoknya tangan kanan megang tangan suami, tangan kiri megang tangan ibuk. Baik banget ya rumah sakitnya gak ngusir salah satu. Salut wes.

Dr amang bilang, kalau bayinya masih belum terlalu turun, meski sudah bukaannya banyak. Di sisi lain, guwehhhh sebagai yang ngeden ini kadang ada sensasi pengen ngeden sendiri. Sampe dilarang sama dr amang, "jangan ngeden dulu, atur napas..."

Yah namanya manut ya, coba atur napas juga sudah sulit tapi ya tetep berusaha. Berasa keringat mengucur dari dahi. Dan ak sempat ngusap dan minta minum ke suami. Si mas bojo dengan sigap gupuh dan bingung langsung ambilkan dan kuminum sebisanya.

Tiba-tiba ada sensasi pengen ngeden gimanaaa gitu. "Aduh aku gak bisa.... gak bisa ngempet ngeden.... Hiiiiiiiih...", Sampe bersuara aku. Kata Dr amang jangan bersuara. Iya juga seh, setelah bersuara jadi haus ak pengen mimik lagi. Tapi adik bayinya belum juga keluar. Nah dalam detik itu kayaknya aku sampe ngeluarin ngengek deh. Gak sengaja saking ngedennya gitu. Jadi baru sadar itulah fungsinya ember...

Kembali aku mikir : semua kru disitu, baik suster bidan dan dojternya sudah ribuan kali nangani orang melahirkan. Jafi gak sedikit dari mereka yang ngengek. Jadi gak usah malu. Ayo, Konsentrasi ke persalinan.

Masih ditunggu, hingga akhirnya dr. Amang putuskan untuk ambil tindakan vacuum.

Dalam keadaan gitu guweehhhh masih sempat mikir : "waduh nih nambah ntar billingnya..." Soalnya kalau diambil tindakan vacuum kan nambah duit sekitar dua atau tiga Jeti gituh.

Aku gak inget kejadiannya, soalnya gak lihat dan gak kerasa. Mungkin karena pengaruh bius. Tapi kata masku dikira kop vakumnya kayak sedot wc gitu, tapi ternyata enggak. Kop vakumnya kayak corong lampu luar yang terbuat dari besi. Wihh... Gak papa taa itu..

Mesin vakumnya cuma berfungsi sebentar saja. Zzuuuung...... Lalu berhenti, tapi bayi belum keluar. Lalu aku diminta untuk berbaring setengah duduk, dengan dibantu ibu dan masku dan beberapa suster. Dengan keadaan dagu menempel dekat dengan dada. Lalu ada suster yang bantuin dorong perutku yang isinya adik bayi turun ke bawah. Rasanya mirip dirukyah.

Trus aku minta minum lagi. Trus tiba-tiba aku pengen ngeden lagi, trus aku sempat bilang aku gak bisa nahan ngeden maaf ya. dan mungkin ada sekali dua kali aku ngeden bersuara lagi sampe dibilangi lagi jangan bersuara. Sampe ibuk pun bisikin jangan bersuara. Tapi ngeden yang ketiga wis gak bisa nahan lagi aku tetep bersuara, tiba-tiba flop... Kulihat makhluk yang berwarna abu-abu keluar dari bagian bawah tubuhku.

Dr. Amang perintahkan perawat untuk matikan ac. Mungkin karena kehadiran si jabang beybeh ini biar gak kedinginan.

Saat flop itu aku terheran-heran sekaligus lega selega-leganya umat.

Makhluk itu langsung diletakkan di dadaku. Dr. Amang menyapa si orok ini dengan berkata, "maaf ya, capek ya?". Lalu karena belum menangis bayinya diberi selang apaan gitu trus menangislah si orok. "Oek...oek.."

Yang kupikirkan saat itu adalah, jelas aku bingung. Sempat kupegang tangan kirinya yang warnanya masih abu-abu itu. Dalam hati ku berkata, "makasi ya nak, sudah bantu ibu lahir lewat persalinan normal, maaf ya lama tadi sampe divakum ya....".
Lalu sebentar saja berhubung aku bingung jadi lupa gak IMD.

Masku lalu diminta oleh Dr amang untuk mendekat padanya. Lalu dipersilakan oleh Dr amang untuk memotong plasenta bayi.
Kemudian Si orok langsung dibawa ke ruang bayi, dan ibuku langsung ngikuti kesana.

Selanjutnya, masku diminta mendekat ke arah bagian bawah tubuhku. Berhubung ak masih bingung-bingung takut-takut gimana gitu ak diem aja. Ternyata masku dipersilakan oleh dr. amang menarik plasenta yang tersisa di rahimku. Seketika flop, sisa plasenta keluar dan byorrrrr darah jatuh ke ember yang sudah disiapkan.

Inilah istimewanya dokter amang, dalam keadaan gini suami diberikan kesempatan untuk berkontribusi dalam persalinan lebih dalam semampunya, dan dalam panduan dokter. Untung ya aku juga milih suami yang istimewa, yang gak kabur lihat darah, yang tangguh dan mau bantuin ginian.

Suster yang tadinya ditugasi memotret juga masih sigap sentosa mengambil gambar. Sempat aku disuru senyum. Wes gak mikir senyum yo. Ini bingung-bingung gak jelas iki.

Sembari suster Lainnya bergegas membereskan perlengkapan, masku menerima plasenta dan mengikuti ke ruang bayi untuk mengadzani si orok.

Tinggal saya sendiri dan dr amang dan seorang suster di ruangan. Rupanya ini adalah saat dimana emplukku dijahit.

Berhubung mungkin masih sakit karena melahirkan, dan masih sisa bius yang tadi yang kapan nyuntiknya bahkan saya tak tahu, rasa saat dijahit gak seberapa sakit. Cuma agak sedikit horor dimana ada sensasi benang keluar dan masuk diantara emplukmu gituhh.

Karena mulai sumuk dan masih keringetan bekasnya melahirkan tadi, aku minta ac-nya nyalakan opoO.... Trus dinyalakan sama susternya.

Sesekali dr. Amang atau suster bergantian memencet perutku. Dan byorrrrr keluar cairan yang siap jatuh ke ember. Itu bukan lagi ketuban, tapi darah. Pemencetan itu berfungsi untuk membantu mengeluarkan sisa 'jejak kehamilan' dari rahim.

Kadang aku masih njerit ketakutan, meski gak sakit rasanya. Ada byorrnya itu waktu dipencet. "Hiiii apa ituuuu..... ", Kataku. Kata dokter amang wong gak diapa-apain kok njerit. Yaa habisnya ada geli dikit sih.

Kerasa jahitannya agak banyak. Dan kayaknya pantatku sobek juga. Ini halusinasi ku apa gimana, tapi kayaknya sobeknya menyamping. Mungkin karena aku heboh tadi ya jadi agak gak sesuai prosedur. Xixixi. Wes gak urus aku jahitan berapa, aku juga gak berani nanya. Pokoknya si jabang beybeh sudah lahir normal selamat wes sukur Alhamdulillah pol gak karu-karuan.

Trus dokter amang bilang, "nanti kalau sudah sembuh, ayo dicari lukanya. Kalau ketemu nanti tak kasih hadiah". Haduh... Wes gak mikir nyarinya lhoooooo...

Lalu dokter amang bilang, oke udah selesai. Selamat ya, sambil tersenyum ke aku. Aku cuma mewek gitu, antara senyum sama nangis gimana gituhh. Terimakasih...

Giving Birth Process Part 6 : Dokter Amang Datang !!!

0 komentar
Dokter amang datang sekitar jam setengah tujuh atau jam tujuh-an. Lupa aku, karena sudah males noleh dan mikir soalnya sakit yo kontraksinya. Entah kenapa aku ada sensasi ngeden sendiri dikit. Aku heran ya kan masih bukaan empat.

Dokter amang datang pakai kemeja putih garis vertikal. Lihat dokter amang itu rasanya kayak ayem gitu. Namanya ibu melahirkan ya kalau lihat dokternya datang meski gak diapa-apain itu agak tenang gimana gitu. Rasanya ada sedikit kelegaan, feeling save... dan mbatin, oo wahai dokterku, lihatlah aku ini...

Dokter amang datang dan memberi penjelasan tentang pertimbangannya untuk memberikan induksi, karena ketuban sudah bocor duluan, sehingga 1x24 jam sudah harus lahir. Sedangkan waktunya sudah hampir habis tapi bukaannya masih bukaan empat.

Jadi induksi ini bertujuan untuk mempercepat bukaan. Pertimbangan ini bisa dilakukan karena melihat kontraksi yang sudah bagus yakni sekitar 4 menit sekali. Induksi ini diberikan dengan dimasukkan ke selang infus dan tidak berpengaruh apa-apa pada ibu.

Induksi ini diberikan atas persetujuan dokter, sehingga dokter amang nya memang harus hadir meski bukaannya masih sedikit.

Lalu melihatku yang kesakitan, dokter amang memberikan opsi anestesi yang disuntikkan di punggung itu. Batinku aku takut disuntik yo. Tapi ngrasakno kontraksinya makin sakit aku rela wes. Mana ibukku ya kasian lihat aku kesakitan ya langsung hu-um gitu. Si mas bojoku ya bingung ya manut ae.

Yang di kepalaku cuma terngiang :
"Aku bisa,
Aku sehat,
Aku gak papa,
Aku mampu,
Semua wanita mengalami ini
Sakitnya tidak akan diberikan Allah di luar batas kemampuanku"

Trus dokter amang kelihatan riwa-riwi di depan ruangan bersalin ngurus apa sama suster gitu. Mungkin nyiapin induksi gitu ya.

Tapi kok kelihatan mau pergi gitu ya. Trus ak nanya dari dalam ruangan dengan segala sakitku iki, "dokter amang mau kemana..." Sambil mewek. Tapi ini mereknya serius yo. Sakittt.
"Mau ke sebelah," jawabnya. Mungkin ada pasien lain yang perlu ditiliki gitu ya. Tapi bisa jadi dia mau kemanaa gitu, tapi bilangnya gitu supaya aku gak panik ditinggal. Wes kadung ayem ada dokter amang, lha kok malah pergi.

Trus aku bilang, "dokter, aku kok berasa pengen ngeden gimana gitu ya.. gimana ini.."
Trus dokter amang masuk lagi dan ngecek VTku lagi. Pas dicek wis gak nemen berasa sakit ya, soale wis kesakitan krn kontraksi gak karu-karuan rasane. Pas diVT itu rasane mak sludur gitu di emplukku. Wihhh kok gampang masuknya, batinku.
"Lho ini sudah bukaan tujuh..." Kata dokter amang.

Hah??!!!??! Apa???!!!! Sudah tujuh???

Alhamdulillah cepat sekali ya, cuma setengah jam dari bukaan empat sudah langsung tujuh. Padahal induksinya masih disiapin.

Trus dokter amang pun perintahkan para suster untuk menyiapkan peralatan persalinan. Nah pas perintahkan itu kan orangnya ada di samping kananku. Berhubung ada beliaunya, ibukku minggir dan otomatis aku gak ada pegangan. Akhirnya aku malah pegangan dokter amang.

"Maaf ya dokter...", Sambil meringis gitu. Dokter amang senyum. Tapi berhubung prekesku lama ya karena kontraksinya makin sensasional, doter amang bilang, "waduh, bisa patah ini tanganku.. hehehe". Aku cuek aja gak urus sama meringis dan tetap prekes wes. Soale sakit yo... Trus masku bilang, "ini dokter, tangan saya sampai biru dan kecakar-cakar.." dokter amang ketawa, trus pergi. Trus orange ngilang. Hah??? Kemana lagi? Haduh.

Nah yang gak asik ini, karena susternya kok santai gak sigap blas gitu pas nyiapinnya. Atau mungkin akunya yang gupuh ya, jadi lihat susternya nyiapin kayak pengen bilang : age-age ndang tala suster... Gitu.

Sakitnya makin jadi di perutku. Grade sakitnya bertambah. Sambil nunggu suster lelet nyiapin aku sempat pegangan tiang infus aku sampe tiang infus nya hampir roboh. Suakit yo..

Aku gak terlalu ingat urutannya. Pokoknya ada banyak alat. Bahkan ada lampunya gitu. Trus disiapin ember segala. Mungkin buat nampung darah yang keluar.

Trus kasurku itu ternyata bisa dibelah jadi dua. Lalu pas dibelah, posisiku dibetulkan. Kemudian dipasang gantungan kaki buat ngeden gitu kali ya. Ampun wes macem-macem peralatannya. Lampunya dinyalakan, dan dokter amang datang sudah pake baju operasi gitu, dan sepatu boots karet kayak mas arip, tukang bangunan di rumahku.

Aku bingung, diem aja, tapi manut ae wis. Dalam detik ini aku merasa kontraksinya kok berkurang ya..

Giving Birth Process Part 5 : Nyeri Kontraksi Makin Jadi

0 komentar
Selama jam 2 siang sampai jam 6 rasa kontraksinya makin jadi. Ada perasaan makin sakit tiap kontraksinya, dimana kontraksinya makin rapat.

Iya bener juga kalau tadi diminta lepas perhiasan. Kalau gak dilepas bisa ganggu aku mulet-mulet karena sakit kontraksi. Aku bahkan sering jambak-jambak rambut ubun-ubun karena saking sakitnya butuh pegangan. Sampe dimarahi ibuk deh, ngapain se jambak-jambak segala, kan nanti bisa botak coba.

Kalau dihitung-hitung, ku sudah melewati rekor kakakku dalam lamanya melahirkan. Kakakku mulai kontraksi jam 10 malam, dan sudah lahir pukul 3 esok sorenya. Dengan kesimpulan pukul 3 itu berarti sudah bukaan 10, jadi bayeknya sudah bisa hek pret lahir dengan sukses.

Nah, jam 4 sore, jam 5 sore ini pun, sayahhhh masihhh bukaan 3. Nunggu berapa lagi. Oo running out of time. 1x24 jam aku sudah harus melahirkan karena ketubanku sudah pecah duluan. Dan waktunya sudah hampir habis.

Allahuakbar.... Aku mulai takut. Masku dan ibuk dengan setia nungguin dan sekarang gak kuat aku megangi tangannya orang satu. Ibuk dan masku satu-satu megangi tanganku kanan-kiri. Makin sakit.

Pas ibukku sholat pun, sambil megangin tanganku karena kontraksi makin rapat, masku bilang kalau ayo sabar, nanti serahkan semua sama Allah. Trus dilanjutkan ngomong nanti manut apa kata dokter, kalau dokter punya keputusan dan pertimbangan harus Cesar, harus legowo.
Aku cuma manggut-manggut, karena emang ngerasa sakit banget. Wajar ya mgkn masku bilang gitu karena lihat aku kesakitan tapi gak brani gerak takut ketuban bocor.

Jam 6 akhirnya tiba. Pengecekan vt yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Mbak susternya sudah ganti lagi dan mengecek seperti biasa pengecekan berkala. Aku manut ae pokoknya.

Dan hasilnya saya masih bukaan empat. Allahuakbar... Sakitnya kayak gini masih bukaan empat?? Gimana nanti sakitnya bukaan lima, enam tujuh, dst... dan tiap bukaan butuh sekitar empat jam???

Yaa Allah, apa aku masih nututi melahirkan normal....??

Wes yang ada di kepalaku yang ada cuma bersyukur tok,
Alhamdulillah bukaannya nambah. Daripada enggak samasekali cobak.
Alhamdulillah ada ibuk dan mas misua bojo yang nemanin di ruang bersalin. Dua-duanya dibolehin masuk dan stay di ruang bersalin sama perawat.
Alhamdulillah aku sehat, gak ada sakit kayak kakakku yang sampe meninggal karena pre-eklampsia.
Alhamdulillah aku dapat kamar kelas satu, dimana kamarnya ready dan duitnya ada buat bayar. Coba bayangkan kalau gak ada duitnya trus aku melahirkan dan ditaruh di kamar yang sekamar empat orang gitu...
Alhamdulillah ruang bersalinnya privat.
Dan Alhamdulillah banyak lain lagi yang masih bisa disyukuri.

Dalam keadaan gitu aku berusaha memainset mikirku positif aja meski sakitnya makin jadi.

Trus habis pengecekan berkala itu perawatnya bilang kalau ini dilaporkan dr.amang dan mereka keluar ruang bersalin seperti biasa. aku wes gak urus ya pokoe sakit nih perutku kenceng. Mana makin sakit yes, nahan nyeri kontraksi sampai keringetan. Makin sumuk dan atur napasnya sudah makin heboh gak setenang tadi. Waktu dilihat pun kontraksiku sudah lima menit sekali, trus empat menit sekali, trus makin dekat rapi bukaannya masih bukaan empat.

Oo wahai adik bayi anakku sayang, ayo nak... Keluar yang pinter... Ibuk sayang pengen ketemu nak...

Trus susternya tiba-tiba masuk lagi. Dan bilang dokter amang sedang menuju kesini mau lihat keadaanku.
Padahal umumnya, untuk ibu yang melahirkan normal, dokter akan datang kalau bukaannya sudah banyak. Bukaan sembilan atau sepuluh gitu. Bahkan gak jarang dokternya belum datang tapi bayinya sudah lahir duluan. Kasuse mbakku banget.

Yaa allah Alhamdulillah......
Entah ya namanya orang melahirkan, ada dokternya datang, cuman ditiliki gak diapa-apain aja sudah senengnya minta ampun. Entah mungkin rasanya rodok ayem sebagai obat pelipur lara gitu.
 

Progestera Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template