Selasa, 08 November 2016

Giving Birth Process Part 4 : Ujian Kesabaran

0 komentar
Antara jam 10 sampai jam 2, kontraksi teratur tapi lupa guwehhh gak ngitung intervalnya. Pokoknya prinsipnya, makin sakit makin banyak bukaan, makin banyak bukaan makin cepat datangnya persalinan.

Dalam taraf ini aku sudah gak bisa nyuri waktu tidur lagi. Mbak ransum Catering datang lagi nanyain makanannya sudah habis apa belum sambil bawa makanan baru. Astaghfirullah, makanan yg tadi aja belum habis... Keadaan kayak gini wes gak mikir makan yo. Sakitt..

Ibukku masih berjuang membujukku supaya mau makan. Aku makan dikit tok dan kontraksinya sudah datang. Akhire aku ilfeel males makan soale sakit yo, trus gak enak kalau di mulut ada makanan pas kontraksi. Tapi ibukku dengan sabar masih bujuk-bujuk aku supaya makan. Aduh...

Kadang ada petugas ibu-ibu cleaning service masuk buat bersihkan kamar. Trus ibukku dan mas misua bojo dengan setia nungguin. Padahal jatahnya yang nungguin satu ya. Heheheheh.... Biarin. Kalau ada mereka, itulah suntikan kekuatanku. Mereka juga gantian sholat dhuhur, dan sudah boleh pakai kamar pasien. Masku yang pilihkan ruangan kelas satu, sesuai permintaan ku yang minta kamar yang isinya cuma satu orang pasien aja.

Mas misua dan ibuk ya makin terampil bantuin aku pipis. Ak sering minum, jadi kemungkinan pipis makin besar. Aku wes dalam taraf gak urus mau ketuban keluar apa gimana, kalau kebelet pipis ya wes pipis aja. Dan tiap ada darah di pipis, biasanya ada bukaan nambah.

Sambil ngaji surat Maryam ibukku kadang masih ngangkat telpon ngurusi bisnis mebel keluarga yang emang repot ya gak bisa ditinggal. Jadinya aku pegangan tiang infus kalau pas kontraksi selama mas misua bojo gak dampingi mungkin pas sholat.

Nah ibukku pun sempat telpon Bu Enab, sahabat SMAnya yang sekarang berdomisili di kota suci dimana aku gak jadi haji karena hamil Bang Zaki ini. Siang itu ibuk telpon ya, di mekkah masih subuh. Bu Enab sempatkan ke Haram dan berdoa di depan Ka'bah untuk mendoakanku.

By the way, saya pun sudah siapkan ngaji ruqyah untuk kelancaran persalinan yang menjadi backsound saya setiap waktu. Ruqyah ini dipercaya melancarkan persalinan. Ya bismillah ae kusetel setiap waktu termasuk saat menanti bukaan selama kontraksi.

Nah jam 2 diperiksa VT lagi. Berikut pemeriksaan tensi, detak jantung bayi maupun antibiotik dan infus kalau habis. Jam ini dan jam 10 tadi sudah gak diperiksa ala seismograf, jadi gak seberapa nyiksa. Tapi kontraksinya ya nambah sakitnya. Saat yang mendebarkan karena aku ywes gak urus rasa sakit dicek VT ya, harapanku bukaannya sudah nambah aja. Suster yang meriksa ya ganti lagi. Yawes manut ae siapa yang bertugas ya.

Dan setelah dicek, masih bukaan dua, hampir tiga. Fyuuuh... Sakitnya makin jadi tapi bukaannya tetap belum banyak. Lambat ya, satu demi satu. Yang kupikirkan aku bisa sabar dengan sakit ini. Tapi apa waktunya cukup sebelum 1x24 jam?

Menanti pengecekan jam 6 sore. Empat jam setelah jam 2.

Kupasrahkan semuanya sama Allah.

Giving Birth Process Part 3 : Dalam Penantian

0 komentar
Dalam masa penantian ini kontraksi masih berjalan. Aku ingat ajaran hypnobirthing dokter amang yang kupuja itu. Percayalah bahwa melahirkan itu gak ada yang gak sakit. Dinikmati aja sakitnya dengan rileks. Jadikan mindset di kepalamu kalau ini sebuah proses yang normal dan gak papa. Rileks jangan panik. Atur napas bisa membantu.

Dalam taraf ini saya sih masih bisa rileks dan tanpa atur napas sih masih oke. Rileks maksudnya bukan rileks nyante-nyante ya, tapi masih tenang gak panik gitu. Kalau sakit yowes, ya emang gitu. Namanya kontraksi ya dimana-mana sakit. Kayak dilep gitu tapi lebih sakit.

Makin terang hari, perawat di RS Lombok 22 ini sudah ganti shift. Mbak-mbak suster semalem sudah ngilang, mgkn jadwal dia sudah berakhir. Ganti deh suster yang lain. Kelihatan dari waktu mbak suster itu tes tensiku aku lupa jam berapa.

Trus aku bilang kalau kebelet pipis ya. Tapi kebelet ngengek juga. Tapi ngengeknya masih dalam stadium yang awal jadi gak usah gak papa.

Ibukku jam 8an datang pakai baju tuneeca yang dihadiahkan mbakku. Datang-datang ibukku sudah nanya gimana keadaanku.
Lumayan masku ada yang gantikan nungguin aku. Jam 8an dikirim ransum nasi sarapan untuk penunggu dan pasien. Pakai nampan hitam kotak ala Jepang gitu. Sepertinya dari Catering diet, soalnya masku tadi sempat lihat mobilnya parkir di depan RS.

Mbak perawat pengurus Catering ini  mengingatkan kalau makanan ini paling lambat dimakan jam 12 soalnya rasanya bisa berubah kalau telat. Mungkin maksudnya mambu kali ya.

Gantian wes mas misua ngengek ta mandi ta apa gitu karena sudah ada ibukku. Ibukku langsung jalan naluri keibuannya dan tanpa ba-bi-bu langsung nawarin aku makan.

Sambil bujuk-bujuk gimana gitu akhirnya aku mau. Karena prinsipnya persalinan itu butuh energi besar, jadi jangan sampai kehabisan energi pas der persalinannya, sedangkan kita gak tau kan sampai kapan ini penantian bukaan kontraksinya.

Menu pagi itu adalah nasi tahu dan telur yang lucu. Entah gimana ya namanya orang kontraksi ya makan apapun tetap gak enak. Untung jeda kontraksi masih gak terlalu dekat jadi ada sela untuk makan. Karena mana enak sih pas kontraksi trus ada makanan di kulit jadi sama ngempet sakit trus ngunyah makan gitu kan nggak banget ya.

Ibukku gak komentar apa-apa, yah begitu mulia seperti ibukku sehari-hari yang gak kebanyakan cincong dan ngriwuki anaknya tapi selalu mendukung dan care sama anaknya setiap saat. Seperti masku, ibukku ya kuremas tangannya saat kontraksi datang.

Lheee jam 9an bulekku yang paling muda dan seumuran sama mbakku datang dan masuk ke ruang bersalin tempatku berjuang. Ikut nanyain kabar sambil nyemangati. Tambah rame lah ruang bersalin ku, karena mbahbuk, alias ibuknya ibuk datang. Wih rame yaaa ruang bersalinnya. Untung ya boleh masuk semua sama susternya, jarang-jarang lho ada RS yang bolehin. Astagadragon.

Mbahbuk datang ya seperti biasa nanyain dan langsung cium aku sambil bisikin, baca al-insyirah yang banyak. Ak sih cuma manthuk-manthuk diem aja karena wes males ngomong. Nah naluri keibuan dan kenenekan mbahku ini jalan dengan mijitin kakiku. Berhubung aku geli jadi ak nolak sambil mancal gitu wes. Gak tau aku kategori sopan apa gak wes mbuh ruwet gitu rasanya sakit yes.

Jam 10an suster yang shift pagi pas aku makan datang ngecek. Nah, bulekku sama mbahbuk itu masih nangkring di ruang bersalin. Malah rempon bahas lainnya. Astagadragon! Ini ruang bersalin yaa bukan kamar pasien... Berhubung aku kebelet pipis ya, jadi aku 'usir' itu dua orang biar gak ganggu proses pengecekan dan pipis.

Jadi waktu dicek, detak jantung bayi lagi pagi alat kecil yang mirip sama usg kecil. Dengar detak jantungnya ya lucu cepet gimana gitu. Trus ada suster lagi datang ngecek tensiku yang 130/70 yang masih dalam taraf normal. Naik dikit tapi masih normal.

Susternya yang ngecek lagi hamil juga. Anak kedua. Beberapa perawat lain juga bantuin. Kuminta mereka lakukan pengecekan kalau pas gak kontraksi. Karena sakitnya bikin aku susah telentang dan bekerja sama.

Padahal teorinya, kata susternya sih, kalau pengecekan makin bagus dilakukan saat kontraksi, jadi hasilnya lebih akurat. Salah satu suster bantu mijeti perutku pas kontraksi, berhubung aku geli jadi aku nolak. Nah untungnya susternya mau ngerti. Pengecekan dilakukan pas aku gak kontraksi, kalau pas kontraksi, selain meremas tangan mas bojo, kadang aku juga pegangan tiang infus soalnya sakit yo.. perlu ada yang diprekes.

Sambil ngecek infus dan antibiotik, susternya bilang kalau nanti kontraksinya tambah sakit. Dan itu yang dicari. Makin rapat jarak antar kontraksi, makin bagus itu. Berarti persalinan makin dekat dan biasanya bukaan makin nambah. Katanya gitu..

Ya semoga saja ya bukannya makin cepet.

Nah yang paling mendebarkan itu pas dicek VT ya. Antara takut sakit, sama harap-harap cemas udah bukaan berapa sih gueh.
Ternyata setelah dicek masih keset sodara-sodara, masih bukaan satu. Yes. Sabar ya.
Susternya pergi dan bilang nanti ya dicek lanjutan jam 2 siang..

Giving Birth Process Part 2 : Pengamatan Berkala

0 komentar
Selama perjalanan kumerasakan kontraksi. Belum seberapa sakit seh. Tapi ndredhegnya itu lho berkecamuk...

Sampe di RS Lombok 22 tampak sepi. Yg ada cuma beberapa orang yang merupakan petugas penjaga keamanan alias satpam yang sedang begadang. Jelasnya mereka gak begadang yey, karena emang kerjaannya gitu. Xixixi...

Turun dari mobil kelihatan kalau mereka sudah berpengalaman sekali menangani ibu yang akan melahirkan. Tanpa diperintah mereka sudah siapkan kursi roda untuk menjemputku dan menuju ruang bersalin. Jelaslah, malam-malam ada sepasang insan bertamu ke RS bersalin ngapain lagi cobak.

Pas turun dari mobil, ketubanku bocor lagi. Byorrrrr... "Haduh pak aku bocor lagi..." Kataku. "Ndak papa bu, monggo Langsung duduk aja.." kata pak satpamnya.
Ak manut ae wes. Pasrah Natakusumasari astutiwati.

Sembari si mas bojo yang sudah menghamiliku itu ngurus birokrasi yang mbuh aku gak tau apaan ya, aku didorong pake kursi roda ke ruang bersalin. Ruang bersalinnya di lantai dua.

Ada sebuah pintu yang menghadap lift, dan aku masuk disitu. Disana aku disambut dua perawat dan dimasukkan ruang bersalin.

Sebuah ruang bersalin yang benar-benar privat, hanya untukku seorang. Gak kayak UGD yang diceritakan Ratih saat dia melahirkan di bkia muslimat jombang.

Ruangan dengan satu kasur bersalin, dan kamar mandi dalam. Ada jam mereknya Edison, yang sama dengan merek jam ku di kamar. Di pintunya ada tulisan, segala kehilangan bukan tanggung jawab rumah sakit. Kok sampai hafal, karena seharian mataku menatap kesitu.

Ada kursi satu untuk penunggu dan dingklik kecil untuk naik turunnya pasien ke kasur.
Kamar mandinya aku gak sempat ngicipi, karena gak boleh bangun dari kasur, karena kasus ibu hamil yang ketubannya bocor di awal, gak boleh banyak gerak kuatir ketubannya bocor trus habis. Jadi harus dihemat itu ketuban buat mak sludurnya bayi.

Masuk ruang bersalin itu pintu langsung ditutup, dibantu seorang suster aku dibantu ganti baju RS yang kayak yukata tapi pendek, dengan tali di belakang.

Pas nglepas baju, byorrrrr lagi rasanya. "Mbak, aku byor lagi..." Kataku.
"Ndak papa bu, sini saya bantu. Lho gak pake softex tadi berangkatnya?" Kata susternya.
"Ndak mbak, ndak sempat. Gupuh kabeh." Kubilang.

Yang kupikirkan adalah : wes gak usah isin. Mereka sudah nangani wong koyok aku sak pirang-pirang, sakbajeg. Jadi sudah sangat biasa melihat darah, empluk, ngengek dan lain sebagainya.

Tapi aku selalu rajin bilang, "Maaf ya mbak," ke setiap suster yang sudah membantuku karena membuat mereka terpaksa berasa dalam situasi yang berurusan sama emplukku. Masio gak terpaksa ya karena emang sudah pekerjaannya, tapi aku tetep minta maaf wes.

Aku pun disuruh berbaring di kasur. Dan diberi selimut untuk nutupi bagian bawah badanku yg bugil. Berbaringnya disarankan menghadap ke kiri karena itu posisi terbaik dalam menunggu persalinan.

Trus aku bilang mbak, aku punya celana melahirkan, pake itu gak papa ya? Trus mbak susternya jawab katanya gak usah nanti mempersulit proses. Heala, tiwas beli celana melahirkan jauh-jauh mahal-mahal rek...

Kata mbak perawatnya, aku disuru nunggu disini selama persalinan. Lalu dipantau berkala,. Gak boleh bangun, gak boleh jalan karena takut bocor lagi ketubannya.

Karena bocor ketuban awal, jadi persalinan harus dilakukan sebelum 1x24 jam. Karena bocornya antara jam 12 dan jam 1 dinihari tadi, jadi maksimal harus bersalin sebelum nanti malam alias besok pagi dinihari.

Ndredheg aku. Adanya berdoa tok sama Allah, minta dimudahkan dan jangan sampai operasi Cesar.

Susternya bilang, aku harus dipantau berkala. Langkah pertama dipantau sudah bukaan berapa. Trus kubilang nunggu misua dulu ya mbak... Soale aku wedi kalau gak pegangan dia.

Sambil nunggu mas bojo datang, aku didata. Ditanyain sambil dicatat. Pertanyaannya seputar kehamilan dan pra persalinan. Kira-kira pertanyaannya ya kapan jam dimana ketuban pertama pecah, perkiraan berat bayi, jenis kelamin bayi, dll. Pak satpam yang tadi nganter masuk, bawa name tag ibu bersalin buat aku. Lho kok pak satpam yo. Xixixi mbuh wes, sakit.

Pas misua masuk sambil bawa aneka bakelan dari rumah. Saya pun siap ditindak..

Pertama disuntik dulu ya. Sesuatu yang paling kutakuti. Suntiknya bukan suntik vaksin sebenarnya, tapi untuk masang infus dan antibiotik. Karena ketuban pecah duluan, jadi harus dipasang antibiotik supaya gak infeksi. Gitu katanya mbak suster.

Trus karena sudah bocor duluan ketubannya, jadi untuk menjaga detak jantung bayi tetap stabil, si ibu alias guwehhhh dikasih oksigen lewat selang di hidungku.

Trus dicek juga suhu tubuh pake termometer. Nah, gak adiknya, termometernya bukan ditaruh di ketiak, tapi di anus. Gile, pas dicek, ak sempat njingkat gitu. Trus mbak susternya bilang ya memang ditaruh disitu bu, kaget ya, mungkin agak gak nyaman ya..
Gak nyaman apanya. Banget yo.

Pas di-VT aku kesakitan tapi tak mpet sambil pegangan masku wes. Berdoa wes bukaan lima gitu kek. Susternya bilang masih bukaan satu. Heala...

Trus dipantau detak jantung bayek. Sambil dipasang alat apaan gitu di perut malangnya perjuangan dikit soalnya harus ngangkat punggung. Takut bocor ketuban lagi aku.
Alatnya ini pemantauan detak jantung bayi dan gerakan selama kontraksi. Nanti ada kertasnya keluar kayak seismograf gitu.

Make alatnya aku harus telentang, trus kakinya lurus, selama 20 menit. Nah, pas 20 menit itu aku disuru megang alat apa gitu ya mirip tombol, kalau merasa ada gerakan jabang beybeh dipencet.

Nah ibu hamil kalau disuruh telentang kan sakit banget ya rasanya perjuangan gitu selama 20 menit sambil pegangan si mas bojo yang kelihatan nguantuk. Kasian yo.

Trus aku juga sempat dicek tensinya. 120/70. Hoo... Masih aman. Dan susternya bawa alat kecil kayak usg tapi bukan, buat periksa detak jantung adik bayi. Semuanya normal. Alhamdulillah.

Nah pengecekan ini dilakukan setiap dua jam. Jadi masuknya kan jam 1 ya. Saya dicek lagi jam 3 dan jam 5 pagi. Baik tensi, maupun alat kayak seismograf dan bukaan.
Berita baiknya semuanya masih normal, meskipun bukannya belum nambah.

Selama penantian itu, setiap berapa menit berkala saya merasakan kontraksi. Dimana kalau kontraksi ya pegangan sama si mas bojo misua ini. Jeda antara kontraksi ya disempatkan bubuk, atau mimik untuk menjaga stamina. Oiya, dilarang keras minum rumput Fatimah ya.

Jeda kontraksi sempat bubuk aku. Kafang masku yg bubuk trus pas kontraksi tak remas tangannya sampe kaget kebangun dia.

Perutku kan sakit ya, trus manggil suster. Trus aku bilang aduh kebelet pipis kebelet ngengek. Trus ak bilang pengen ke kamar mandi. Nah berhubung ketuban pecah duluan, aku gak boleh bangun dan pipis harus pakai pispot. Pipis dibantu mbak suster dan ternyata pas pipis juga ketubannya keluar juga. Makin takut wes aku pipis.


Setelah pengamatan jam 6, pengamatan dilakukan setiap 4 jam, bukan 2 jam lagi. Susternya bilang kalau segala perkembangan akan dilaporkan ke dokter amang. Trus ak diminta untuk lucuti semua perhiasan yang nempel di badan, soalnya kuatir ganggu pas kontraksi nantinya. Ya manut ae lah.

Masku bilang, kalau serahkan semua sama Allah. Dan nurut apa kata dokter ya. Aku cuma manthuk aja manut soale kontraksi sakit yo.

Sambil nungguin aku, si mas bojo misua ini sempatkan sms dan ngabari dan minta doa ke keluarga kalau guehhh sudah masuk RS dalam rangka mengeluarkan bang Zaki si jabang beybeh.

Pikirku ibuk mana... Ibuk mana...
Sempat nelpon katanya ibuk baru berangkat jam 6 nunggu supire cak imam. Hadoooo...

Ya inilah saatnya menanti..

Giving Birth Process : Ketuban Bocor

0 komentar
Tiba-tiba bangun sekitar jam 12 malam. Perut masih kerasa sakit. Tapi sakitnya gak sesakit waktu di McD.
Apakah aku akan melahirkan? Pun kalau iya, aku kok belum pernah ngerasain Braxton Hicks samasekali ya.
Kalau mau melahirkan kan ada tiga tanda, dan satupun aku belum ada tanda-tandanya
Batinku, kalo pun kontraksi sakitnya gini sih yo guaya aku. Sambil njoget-njoget diatas kasur sambil berbaring.
Pas ganti posisi pasca njoget dan meluk guling, *byorrr* ada sensasi semacam balon yang ada isinya air bocor lewat emplukku...

Seketika aku langsung tahu kalau inilah yang namanya : air ketuban pecah.

Wihhh tanpa ba-bi-bu aku langsung teriak manggil mas aa si bojo yang sudah menghamiliku.
"A.. air ketubanku pecah."
Si mas bojo langsung njingkat dari sleeping unbeauty-nya. Tentunya tanpa ba-bi-bu pula.
"Siapin mobilnya, apa-apanya semuanya ya. Telpon Lombok 22.." gitu kataku. Masku itu langsung telpon Lombok 22 Flores untuk pastikan kalau kamarnya ada. Berhubung semuanya sudah siap ya tinggal nyalakan mobil dan werrdorr berangkat.

Aku yang masih gak berani bangun dari kasur menunggu masku telpon RS Lombok 22. "Kamarnya ada dek, mulai kelas 1, VIP, sampe VVIP ada."
Alhamdulillah, pikirku. Anak harum ini pinter milih waktu. Makasih ya nak...
Bangun dengan dibantu si mas bojo, aku merasakan ketubanku mengucur lagi. Byorrrrr... Pas berdiri dari kasur, byorrrrr...
Pas ganti celana dalam, ada sedikit darah.

Ak pgn pipis. Pas lihat ke bawah cairan ketuban terlihat seperti ingus encer yg ada putih-putih nya. Hmm... Kalau kubilang mirip sup asparagus wes.

"Dek, semuanya sudah siap." Kata masku. Pelan-pelan aku jalan ke mobil takut ketuban pecah lagi. Mana kata Dr. Amang ketubanku mulai sedikit. Aku ketakutan kalau habis yey... Duduk naik ke mobil pun byorrrrr lagi. Haduh g tau wes.

Masku yg agak grogi pun berusaha tenang dengan perasaan berkecamuk. Kelihatan kalau dia semangat, bingung, excited, kaget. Campur semua wes.

Tampak satpam perumahan yang bingung dengan keberangkatan kami di tengah malam. Dikiranya mau nonton midnight kali ya..

Jumat, 04 November 2016

BAHAYA GHOIB DAN SPIRITUAL MENYIMPAN TALI PUSAR

0 komentar

TERKAIT kehidupan manusia, masyarakat Jawa mempunyai tradisi mengadakan selamatan, dimulai sejak manusia masih berada dalam kandungan, lahir ke dunia, sampai dengan kematiannya. Salah satu selamatan tersebut dinamakan puputan.

Biasanya, bayi antara umur sepuluh hari sampai dua minggu, tali pusarnya sudah putus. Setelah tali pusaratau tali pusat putus, lalu diadakan selamatan yang dinamakan puputan atau pupak puser. Puputan asal kata dari puput (bahasa Jawa), yang artinya putus. Tujuan selamatan ini agar bayi selalu diberi kesehatan dan keselamatan dalam hidupnya. Kemudian tali pusat tersebut dikeringkan dan disimpan.

Ada kepercayaan bahwa tali pusat ini mempunyai kasiat untuk menyembuhkan. Bila sang empunya tali pusat sakit, maka tali pusat tadi direndam dengan air panas beberapa saat, kemudian air diminumkan. Dengan meminum air hangat bekas rendaman tali pusat tadi, diharapkan penderita sembuh.

Adapun bagi Masyarakat bali Tali pusat dipercaya sebagai pelindung karena sejak dalam kandungan tali pusat menjadi penghubung antara ibu dengan janin. Tali pusat menjadi jalan masuknya makanan pada tubuh bayi. Dengan demikian saat dalam kandungan, tali pusat menjadi sumber kehidupan janin. Bahkan tali pusat dipercaya sebagai penghubung antara manusia dengan empat saudara yang lahir bersamanya (catur sanak)

Ada Apa dengan Tali Pusar yang Disimpan?

Yuk dimari kita pahami bersama tentang tali pusat/pusar. Agar tak ada keraguan, mari kita contek pengertian tali pusar dari wikipedia.  Apa yang tertulis disana?

***
"Tali pusat adalah jaringan pengikat yang menghubungkan plasenta dan fetus (janin).

Fungsi dari tali pusat adalah menjaga viabilitas (kelangsungan hidup) dan memfasilitasi pertumbuhan embrio dan janin Pembuangan senyawa sisa, serta pengangkutan oksigen, nutrisi, dan faktor pertumbuhan untuk janin berlangsung melalui tali pusat. Tali pusat tersusun dari 90% air dan terhubung dengan cakram intervertebral (80%) serta kartilago tulang rawan sendi (95%).

Setelah bayi dilahirkan, tali pusat umumnya dijepit dan dipotong kemudian dibiarkan terpapar di udara untuk pengeringan. Dalam waktu 24 jam, warna putih kebiruan dari tali pusat akan hilang dan menjadi hitam setelah beberapa hari.  Pengukuran gas tali pusat perlu dilakukan pada bayi yang lahir melalui proses bedah sesar untuk mengetahui kondisi kesehatan bayi.
Darah dari tali pusat telah dimanfaatkan sebagai sumber sel punca untuk mengatasi beberapa penyakit tertentu.

***
Ini beberapa catatan saya terhadap copy paste tersebut :
1. Tali pusar cuma sekedar jaringan pengikat saja

2. Fungsinya sudah dijelaskan di atas, banyak dan luar biasa.. masyaAllah itulah kuasa Allah swt sebaik-baik Pencipta. Namun saya tanya nih, tali pusar berfungsi sedemikian rupa saat dimana? Di dalam rahim atau setelah bayi dilahirkan kemudian tali pusar dipotong.. silakan jawab dengan akal sehat, bukan hawa nafsu, maupun ngikutin katanya..

3. Adalah kepastian, bayi lahir, tali pusar yang masih tersambung dengan plasenta dijepit lalu dipotong, terpapar udara kemudian mengering, berwarna coklat kehitaman. Selang beberapa hari kemudian tali pusar yang dijepit lepas dari pusat, kenapa? Karena pusat bayi sudah menutup. Bayi tak lagi membutuhkan fungsi tali pusar, tapi bayi membutuhkan ASI, betul tidak?

4. Tali pusar yang berwarna coklat kehitaman inilah yang biasanya disimpan.. Saya nanya serius nih, Siapa yang udah pernah menciumnya? Harum atau berbau? Higienis? Bebas bakteri?

5. Saya jelaskan kembali, baca kalimat terakhir, apa yang digunakan sebagai sel punca atau stem cell untuk mengatasi beberapa penyakit dari tali pusar? Darahnya atau tali pusar itu sendiri? Kalau pun disimpan, apakah sama proses penyimpanan dan pengobatan yang dilakukan dengan yang sudah menjadi kebiasaan sebagian orang? Kalau pun tali pusar yang disimpan sebagai obat sebagai stem cell di dunia medis, emang yang disimpan tali pusar yang dalam keadaan kering kayak kerupuk.

Kok tali pusar disimpan, kenapa?

Informasi yang banyak saya peroleh dari mereka yang menyimpan atau pun pernah menyimpan tali pusar tersebut, antara lain karena :
- Disimpan karena mengikuti apa yang sudah dilakukan orang tua atau leluhur mereka atau orang lain karena khasiat tali pusar.
- Disimpan karena permintaan orang tua
- Disimpan untuk dijadikan sebagai kenangan-kenangan kelahiran anak.
- Boleh anda tambah sendiri
Maka perlu saya sampaikan kepada kita semua tentang perkataan Allah swt ;
"Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab, “(Tidak!) kami mengikuti apa yang kami dapati pada NENEK-MOYANG kami (melakukannya),” padahal nenek-moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan TIDAK mendapat petunjuk.” (Q.S: al-Baqarah: 170).

Artinya apa? Berarti apa yang kita lakukan dalam menyimpan tali pusar itu cuma ngikut doank dari apa yang dilakukan oleh nenek moyang sedang nenek moyang kita gak tau apapun dan gak dapat petunjuk. Lha! Kalau petunjuk tali pusar yang disimpan bukan dari Allah dan Rasul-Nya. Lantas dari mana sumber petunjuknya sehingga tali pusar yang disimpan dipercaya ada khasiatnya :
1. Diyakini bisa menjadi obat ketika anak sakit. Misal ketika anak demam, tali pusar direndam lalu airnya diminumkan.
2. Ketika anak lebih dari 2, tali pusar anak disatukan (dikumpulkan menjadi satu) gunanya untuk membuat anak akur, gak suka berantem sesama saudara, dan lain-lain
Jika petunjuknya bukan dari Allah dan Rasul-Nya berarti petunjuk itu datangnya dari Setan dan Wali-walinya. Na'udzubillahi minasy syaithoonirrojiim

Ada yang menyimpan untuk dijadikan azimat maka sudah berbuat syirik pada Allah.

Dan anda yang menyimpan sebagai kenangan-kenangan walau tak ada niat apa pun, maka yang berlaku adalah apa yang diyakini oleh orang lain melekat juga pada perilaku anda. Masihkan anda berpikir untuk tetap menyimpannya?

“Sama saja bagi kami, apakah engkau memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah ADAT KEBIASAAN orang-orang terdahulu dan kami tdk akan diazab” (Q.S: asy-Syuara: 136-138

Intinya jika petunjuk tersebut bukan dari Allah dan Rasul-Nya, maka setan pasti memiliki peran yang besar. Jika setan punya peran besar, maka tali pusar yang disimpan bukanlah menjadi obat melainkan menjadi JIMAT.

Faktanya :
- Anak susah dinasehatin dalam kebaikan
- Suka ngelawan
- Gampang marah
- Dan lain-lain

Lha, buat orang tua yang pernah melakukannya, apa iya bisa diterima akal sehat? Saya ulangi kembali pertanyaan saya ; udah pernah mencium bau tali pusar yang sudah di simpan dan mengering? Tali pusar yang sudah mengering kemudian direndam, kayak apa gitu air dan tali pusarnya? Higienis? Aman bakteri?

Alangkah teganya memberi minum anak yang sakit dengan rendaman tali pusar. Boleh jadi bisa timbul penyakit baru, misal diare. Pak, ada yang sembuh kok! Emang sembuh gegara tali pusar? Boleh jadi emang demamnya sedang turun.

Tahun 2015, saya mengumpulkan data dari kuisioner MAT. Kuisioner tsb 100% diisi oleh keluarga yang anaknya berkebutuhan khusus. Ada sekitar 60% dari 46 keluarga yang mereka masih menyimpan tali pusar anaknya.

Yang dikumpulkan tali pusar anaknya menjadi satu :
- Anak malah sering berantem alias gak akur
- Ada malah yang membenci saudaranya sendiri
Jadi bertolak belakang dari kepercayaan yang diyakini.

Sahabat, tali pusar yang disimpan itu bukan jadi obat melainkan ia akan menjadi jimat, kenapa? Setan sangat menyukai hal-hal yang dijadikan mitos oleh sebagian orang

“Dan jika dikatakan kepada mereka, marilah kalian (mengikuti) kepada apa yang Allah turunkan kepada Rasul, niscaya mereka berkata, cukuplah bagi kami apa yang kami dapati BAPAK-BAPAK kami berada padanya. Apakah (mereka tetap bersikap demikian) meskipun bapak-bapak mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Maidah: 104).

Reaksi mereka yang membakar tali pusar yang telah disimpan. Saya cuma copy paste yang mrk wa/inbox ke saya :
1. "Tadi waktu baca ayat qursi sebelum bakar tali pusar tiba2 saya menangis sesenggukan. Ketika dibakar ada sesuatu yang keluar dari hidung"
2. "Baru sja orang tua sy membakar tali pusar sya.. dan badan pun terasa lbh ringan... emosi trsa lbh terkontrol... mungkin hanya sugesti.. tpi istighfar dzikir shalawat ttp sy baca dlm hati... Adik2 sy stlh dibakar tali pusarnya, merasakan panas diperut mrk... lalu sy minta istighfar dan alhamdulillah mrk lbh enak katanya..."
3. Sy nangis pas di bakar dada panas dan berdebar. Lumayan mesti berkali-kali bakrnya smpe jd abu pdhl d dlm ruangan apinya mati2 trus

Begitulah reaksi sebagian sahabat yang telah memusnahkan tali pusar. Anda atau ada keluarga atau teman yang kena gangguan jin bisa jadi karena tali pisar yang disimpan menjadi sarana buhul jin untuk mengganggu. Ada pun anda yang telah melakukan hal yang sama (meruqyah tali pusar lalu membuag atau membakarnya) namun tak merasakan apapun, maka bersyukurlah.. karena saya pun tak mengharapkan reaksi itu muncul. Yang penting dari itu anda meninggalkan sesuatu yang tak ada faedahnya sedikitpun.

Kenapa harus dibacakan ayat kursy lalu ditiup?
Sebenarnya gak harus ayat kursy yang dibaca, bisa ayat lainnya atau cukup bismillah lalu tiup. Tujuannya agar jin yang menjadikan tali pusar sebagai bentengnya atau perisainya kabur, sehingga dengan demikian perilaku yang disebabkan oleh jin pada anak tidak terjadi lagi.

Setelahnya kenapa harus dibakar?
Jika saat tali pusar yang lepas dari pusat anak langsung ditanam, maka saat ini harusnya tali pusar itu sudah tidak ada lagi atau hancur, maka dengan membakarnya bertujuan untuk mempercepat proses penghancuran tali pusar yang terlanjur tersimpan.

Bagaimana jika sudah pernah menyimpan lalu hilang?
Jika terlanjur hilang, cukup ditaubati saja.. mudahkan?

Terakhir dari saya terkait tali pusar yang disimpan :
- menyimpan tali pusar tidak ada syariatnya
- Tali pusar yang disimpan bukan menjadi obat malah berpotensi menjadi jimat
- Pertolongan Allah insyaAllah akan segera tiba jika tali pusar anak yang masih tersimpan dimusnahkan.
- Jangan jadikan tali pusar itu sebagai kenang-kenangan tapi jadikanlah anakmu qurrata a'yun, karena anak-anak kita kenang-kenangan yang sesungguhnya.
- Jika masih ada yang mau ditanyakan lagi silakan..

#Bolehdishare

Dikisahkan oleh Muhammad Taufik Full

Minggu, 30 Oktober 2016

Rainbow Maternity Shoot

0 komentar
Dr. Rizal Fitni bilang, kalau Si Jabang Beybeh ini bisa lahir tanggal 31 Oktober, berdasarkan pengamatan control sebelumnya yang menyatakan bahwa si bayi sudah matang dalam kandungan. Matang? Kayal manggan aja. Tinggal diunduh ya…. Xixixix………….



Lalu Dokter Amang juga berkata kalau si Bayi ini sudah masuk jalan lahir, jadi bisa lahir setiap saat. Nah, mumpung belum lahir, dan saya berada di masa-masa akhir kehamilan, maka ada baiknya bila segera melakukan maternity shoot. Hehehhehe……



Yah Seadanya saja, daripada gak ada. Dengan memberdayakan kedua adik sepupu yang nurut sama mbaknya ini (xixixi) maka kami melakukan sesi pemotretan. Wohohohoho………..












Photographer : Dinda @dindazet
Stylist : Dara @darafaradisa
Model : Me (and Bojo)
Dress : Beli di tanah abang. Xixiixi
Head Accessories : La Perle by Irna Mutiara
Innerveil : Irna La Perle by Irna Mutiara

Necklace : La Perle by Irna Mutiara

Sabtu, 29 Oktober 2016

Muslim Pregnant Lady Jedi

0 komentar
Sebagai penggila Star Wars, rasanya kurang afdol bila tidak memiliki gaun Jedi. Hehhehe... Mumpung adik beybeh belum lahir, dan ada gaun jedi yang perlu diberdayakan, maka perlu adanya eksekusi untuk melakukan maternity shoot ala Star Wars.


Dengan gaun mirip Jedi warna coklat yang dipadu cepol plus headband mbak Padme Amidala dari koleksi head accessories Irna La Perle memang klop sensasional, cocok banget.


Sayangnya pedangnya gak nahaaaan cyiiiin… Lightsaber murahan cuy. Kalau ada yang mau makai saya sebagai endorse, misalnya jualan lightsaber original, saya SANGAT bersedia.








 

 

Progestera Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template